Live is never flat, so don't give up with a problem

2. 1.Pendidikan dan PSDM
Mendidik dan pendidikan adalah dua hal yang saling berhubungan. dari segi bahasa, mendidik adalah kata kerja sedangankan pendidikan adalah kata benda. Kalau kita mendidik kita melakukan suatu kegiatan atau tindakan. dengan kata lain, mendidik adalah suatu kegiatan yang mengandung komunikasi anatara dua orang manusia atau lebih.
Langeveld seorang ahli pedagogik dari Belanda mengemukakan batasan pengertian pendidikan, bahwa pendidikan adalah suatu bimbingan yang di berikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai tujuan, yaitu kedewasaan.
Dalam GBHN 1973, dikemukakan pengertian pendidikan bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan peserta didik di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan dalam arti luas berarti suatu proses untuk mengembangkan semua aspek kepribadian manusia, yang mencakup: pengetahuiannya, nilai serta sikapnya, dan ketrampilannya. Pendidikan bertujuan untuk mencapai kepribadian individu yang lebih baik.
Pengembangan Sumber Daya Manusia adalah pemanfaatan pelatihan dan pengembangan, pengembangan karir dan pengembangan organisasi yang terintegrasi antara satu dengan yang lain untuk meningkatkan efektifitas individual dan organisasi (McLagan dan suhadolnik, 1990 : 10).
Dari pengertian pengertian tersebut di ketahui bahwa pendidikan ialah hak semua warga Negara tidak terkecuali rakyat miskin, namun di saat ini Pendidikan di Indonesia dalam pelaksanaannya masih belum bisa di katakan setara dalam kualitasnya. Karena dalam berlangsungnya pendidikan yang baik haruslah memiliki pendidik yang berkualitas, metode yang baik dalam memberikan materi dan memiliki fasilitas yang baik untuk menunjangnya.
Namun di Indonesia dalam penyelenggaraan pendidikan masih terdapat kelemahan yang mengakibatkan hasil dari pendidikan yang di hasilkan tidak begitu baik dan berkualitas yakni kurangnya mutu dari pendidik yang ada di Indonesia.

2.2 Dampak yang Terjadi
a. Seorang Pendidik kurang mampu mengetahui potensi peserta didik
Seorang pendidik kurang mampu mengetahui potensi peserta didiknya yang hal tersebut dapat mengakibatkan anak didik tidak dapat tergali secara maksimal potensi yang di milikinya. Hal tersebut banyak menjadikan permasalah bagi pengembangan sumber daya manusia seperti SDM kurang dapat tergali secara maksimal.. Yang semulanya anak tersebut memiliki potensi yang begitu potensial dengan tidak adanya mutu dalam pendidikannya mengakibatkan anak tersebut tidak dapat berkembang dengan baik dan akhirnya hasil dari pendidikan tersebut tidak dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya.
b. Anak didik tidak dapat bersaing di dunia kerja
Karena SDM yang di hasilkan kuarang maka akan mengakibatkan anak didik kelak setelah lulus tidak dapat bersaing di dunia kerja. Hal tersebut dapat mengakibatkan pengangguran yang bertambah mengakibatkan jumlah kemiskinan pun bertambah pula. Hal tersebut mengakibatkan kesenjangan dalam bidang ekonomi. Bertambahnya orang kaya tidak di barengi dengan berkurangnya angka kemiskinan.
2.3 Penyelesaian
Peningkatan profesionalisme seorang pendidik sebagi salah satu tokoh kunci dalam keberhasilan proses pendidikan. Seorang Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi agen pembelajar yang memadai untuk dapat mengelola pembelajaran yang memadai untuk dapat mengelola pembelajaran yang berkualitas. Hal ini tertuang dalam peraturan pemerintah (PP) nomor 19 tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan. Seorang pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, serta kompetensi sosial.
Salah satu kunci untuk menjadi pendidik professional adalah memahami peran yang di emban sebagai pendidik. Peran pendidik dalam pembelajaran meliputi peran sebagai perencana, pelaksana dan evaluator pembelajaran. Sebagai perencana, seorang pendidik harus merencanakan tujuan apa yang ingin di capai dalam pembelajaran. apa yang perlu di lakukan dan bagaimana melakukannya serta apa yang perlu di butuhkan untuk kegiatan tersebut.
Sebagai pelaksana pembelajaran seorang pendidik menjadi fasilitator yang mengusahakan sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan, motivator yang member dorongan semangat dan menguatkan perilaku – perilaku positif anak sehingga anak menampilkan berprilaku yang di harapkan, menjadi model perilaku, pengamat, pendamai dan pengasuh.
Sebagai evaluator, guru mengevaluasi proses pembelajaran yang sedang berlangsung dan juga melakukan evaluasi perkembangan anak. Informasi yang diperoleh dari hasil evaluasi tersebut di manfaatkan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran selanjutnya.
Peran dalam pendukung pembelajaran meliputi peran sebagai komunikator dan administrator. Sebagai komunikator, pendidik di tuntut untuk dapat menyampaikan pesan dengan bahasa dan cara berkomunikasi yang bisa di terima anak. Pendidik juga di tuntut untuk berperan sebagai komunikator terhadap orang tua tentang informasi – informasi program program yang dilaksanakan sekolah, informasi tentang perkembangan anak serta selalu merespon rasa ingin tahu orang tua terhadap perkembangan anaknya. Sebagai administrator merupakan tindakan lanjut darin perencanaan pembelajaran yang dilakukan dengan menyusun program tahunan, bulanan, mingguan maupun harian yang di dalamnya sudah mencakup kegiatan yang akan dilakukan.
Seorang pendidik yang professional perlu membangun kecakapan secara individu dan pekerjaan. Antara pekerjaan dan karakter individu yang bersangkutan tidak dapat dipisahkan. Guru professional harus dapat melihat seagal sesuatu dengan pandangan yang positif. dan pendidik yang baik harus :
a. Berdiskusi dengan teman sejawat, dan dapat juga dilakukan dengan membuat instrument “self assessment” sebagai acuan untuk perbaikan kedepan.
b. Mengimplementasikan program sesuai dengan tujuan bagi anak dengan mencanangkan program yang baik, terintegrasi dengan memperhatikan keseimbangan kegiatan kognitif, psikomotor dan afektif.
c. Mengatur dan mengorganisasikan ruang kelas sesuai dengan kebutuhan anak. sehingga akan menimbulakan suasana belajar yang nyaman dan akan meningkatkan konsentrasi dan penguasaan keterampilan tertentu, kerja sama dengan teman sebaya serta keterampilan memecahakan suatu masalah.
d. memiliki sikap perilaku yang mencerminkan rasa ingin tahu, semangat, kreatif, inovatif empati, toleransi, pengertian, dan kasih saying.
e. bersifat fleksibel, luwes dalam mengambil berbagai keputusan yang akan di pakai sebagai acuan dalam bertindak.
f. Mampu membina hubungan baik dengan semua pihak. terutama dengan murid, guru bersikap akrab, santun dalam berkomunikasi, sopan, selalu menunjukan perhatian, menghargai dan menanggapi semua komentar yang di ungkapkan oleh anak.
g. Mampu berkomunikasi dengan bahasa yang tepat dan menggunakan bahasa tubuh yang tepat, mengkomunikasikan dengan jelas. Dan dalam memerintah menggunkan kalimat yang sederhana.
h. Memiliki percaya diri yang tinggi yakin akan apa yang ddilakukan adalah demi kebaikan. sehingga seorang guru akan dapat menghargai diri sendiri dan orang lain.
i. Mempunyai kemampuan untuk melibatkan setiap anak dalam setiap kegiatan yang terjadi.
j. Bersifat pembelajar, mampu berpikir kritis dan memecahkan permasalahan.
h. Hangat namun menyejukkan. Pendidik adalah orang tua kedua bagi anak di sekolah. Melayani anak sesuai dengan kebutuhannya, dengan memperhatikan tumbuh kembang jasmani maupun rohaninya, adalah salah satu fungsi orang tua yang harus di jalankan.
Jika seorang pendidik siap untuk menerjunkan diri di bidang pendidikan, maka ia harus mengetahui fungsinya sebagai pendidik, memiliki etos dam etika kerja sebagi pendidik, dan bersedia belajar dalam waktu yang panjang. Guru tersebut harus melewati suatu proses dari masa masa awal sampai tingkat ia mampu mandiri dan benar – benar menyadari profesinya sebagai seorang pendidik yang professional.

PENDIDIKAN DAN BELAJAR
Proses pendidikan dalam pengertian yang amat luas dapat didefinisikan sebagai perubahan dalam memahami dunia luar, dirinya sendiri, dan hubungan dirinya dengan orang lain dan obyek-obyek yang ada di lingkungannya . Perubahan-perubahan itu membantu seseorang untuk menginterprestasi pengalaman dan memungkinkan peningkatan teknik-teknik bertingkah laku yang efektif untuk menghadapi kehidupan, serta memungkinkan mengontrol elemen-elemen lingkungan yang berhubungan dengannya (Blakely,1972.Dewey(1916) mendefinisikan, pendidikan adalah “rekontruksi atau reorganisasi pengalaman, sehingga menambah arti pengalaman dan meningkatkan kemampuan mengarahkan jalan pengalaman berikutnya”. jadi, pendidikan erat sekali hubungannya dengan belajar : belajar adalah suatu proses dimana pribadi seseorang bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya , melalui proses ini terjadi pendidikan . seperti Blakely(1972.hal.105)telah menempatkan pendidikan dalam pengertian yang sangat luas, sebagai suatu proses “selfinitiated,” “self-directd learning” proses ini dilakukan secara spontan , alamiah, bahkan tanpa disadari (Stephen,1967). Karena itu, pendidikan tidak sama dengan belajar, khususnya jenis belajar formal.

Persekolahan dan belajar
Persekolahan dan belajar juga berkaitan sangat erat. Sekolah diasosiasikan dengan belajar, meskipun para penulis dalam bidang ini barangkali tidak sependapat mengenai beberapa jenis fakta belajar yang akakn menjadi masalah utama . bagaimanapun juga, sekolah dan belajar bukanlah hal yang sama. Umpamanya, belajar tidak harus secara khusus menyadari bahwa mereka sedang belajar. Para ahli ilmu jiwa mengakui eksistensi, seperti “incidental learning’” apa yang dipelajari barangkali diperoleh tanpa kesadaran pada diri pelajar . jenis belajar ini tidak dapat dianggap persekolahan, meskipun barangkali terjadi di sekolah serta menyenangkan atau mencemaskan para pendidik. Jenis belajar di sekolah memilki unsur-unsur tertentu yang membedakannya dengan belajar sehari-hari yang semata-mata terjadi dalam kehidupan dan perkembangannya. Apa yang menyebabkan kekhasan persekolahan dan keunikan hubungannya dengan belajar , adalah fakta bahwa proses persekolahan merupakan usaha sengaja dan sistematik dibuat untuk mengubah tingkah laku melalui belajar (Duke,1976; Rohwer,1970). Untuk membuat lebih sederhana , persekolahan mempunyai seperangkat prosedur yang secara sengaja direncanaakan dengan maksud mempengaruhi proses belajar , dengan cara khusus dipilih oleh orang-orang yang mengarah persekolahan . proses belajar diciptakan melalui pengolaan lingkungan , sehingga orang-orang yang disekolahkan menemukan diri mereka sendiri dalam lingkungan itu.
Dalam persekolahan, usaha formal dan terstandar dilaksanakan untuk memodifikasi belajar. Juga agen-agen yang secara khusus dirancang untuk tugas mengontrol belajar (guru-guru),para pelajar paling tidak sebagian menyadari fakta bahwa mereka diikat dalam proses belajar (murid-murid), dan seperangkat tujuan dan gagasan yang sengaja untuk direalisasikan , dan tujuan dan gagasan itu dianggap akan dapat dicapai dengan pola pengolaan khusus proses belajar yang dipilih. Semua hal yang telah disebutkan memerlukan persyaratan adanya orang-orang yang mengerti bagaimana mempengaruhi belajar, apa yang akan dipelajari , kapan akan dipelajari,dan tujuan untuk apa dipelajari . mereka itu adalah para pendidik profesional, seperti guru dan administrator. Dalam persekolahan , pendidik profesional dengan sengaja menyediakan kondisi lingkungan yang mereka percaya akan mengubah , belajar untuk mencapai lingkungan yang mereka inginkan. Jadi, hubungan antara persekolahan dengan belajar berpusat pada fakta , bahwa meskipun belajar adalah seumur hidup dan ada di mana-mana, hanya selama periode persekolahan belajar dilakukan secara besar-besaran, dibiayai negara, biasanya wajib diikuti dan terdapat usah sistematis yang dibuat untuk memodifikasi dan mengaturnya.

Pendidikan dan persekolahan
Istilah “pendidikan “ seringkali dipergunakan dalam jajaran statemen tentang sekolah dan mengajar di sekolah. Dapat dibenarkan pengertian pendidikan lebih diperluas meliputi seluruh pengalaman yang mendidik yang dialami oleh orang-orang dalam seluruh bagian kehidupan normal mereka . tentu saja, kemungkinan menerima pendidikan melalui pengalaman kehidupan (pendidikan “dalam sekolah kehidupan” ), atau sebaliknya menggunakan banyak waktu di sekolah tetapi miskin pendidikan dalam bidang kehidupan (“pendidikan orang-orang idiot”), diakui secara luas dalam ekspresi bahasa sehari-hari. Persekolahan adalah pembelajaran di sekolah dengan aksentuasi pada penguasaan materi yang diajarkan. Untuk mengetahui derajat penguasaan, diadakan suatu sistem ujian berkala dan penguasaan yang berdasarkan hasil yang distandardisasikan oleh ujian tadi, menentukan akses ke jenjang pembelajaran yang lebih tinggi. Pengakuan terhadap penguasaan materi yang disebut pula sebagai pengetahuan di jenjang pembelajaran tertentu ditandai dengan ijazah serta gelar tertentu yang sepadan. Persekolahan adalah hanya salah satu instansi khusus pendidikan. Hal ini penting bagi siapa saja yang ingin memahami prinsip-prinsip pendidikan seumur hidup. Perbedaan yang dibuat antara pendidikan dan persekolahan disini barangkali karena didorong seringkali kedua istilah tersebut disamakan . karena itu, penting untuk diperhatiakan bahwa belajar yang belangsung di sekolah hanya salah satu contoh belajar normal , wajar dan sehari-hari yang berlangsung dalam proses pendidikan yang lebih luas . lebih jauh lagi, persekolahan hanya salah satu dari banyak proses pendidikan yang beroperasi dalam kehidupan , dan sekolah hanya salah satu prinsip-utama pendidikan seumur hidup.

Konsep belajar
Sebagai “reorganisme kejiwaan” jelas sekali meliputi banyak faktor yang tidak hanya sekedar pola reinforcement khusus yang beroperasi pada waktu terjadinya. Diantaranya faktor kognitif seperti interprestasi informasi , kecocokan input dengan tingkat perkembangan yang ada , dan sebagainya, juga termasuk ada tidaknya pola motivasi yang cocok, dan seluruh unsur variabel affektif seperti sikap terhadap orang dan benda , dan faktor lain yang serupa.
Lebih jauh lagi, konsep belajar yang di pergunakan disini juga diperluas kebidang yang kedua. Belajar meliputi penguasan ketrampilan-ketrampilan sosial baru, perkembangan perubahan sikap ke arah dirinya sendiri dan orang lain , perubahan kemampaun untuk mengalami dan menahan emosi, pengembangan tujuan dan aspirasi , dan sebagainya. Konseptualisasi belajar ini telah diungkapkaan lebih banyak oleh Blakely(1972). Meskipun benar bahwa belajar adalah proses adaptasi terhadap lingkungan , lebih jelas lagi pengertiannya, khususnya dalam konteks belajar adalah proses yang “dinamis.” Manusia belajar aspek-aspek pengalaman apa yang aka diperoleh dan taktik dan teknik apa yang akan dipergunakan untuk menafsirkan pengalaman. Mereka belajar bagaimana belajar, kapan belajar dan apa yang akan dipelajari. Belajar buakn hal yang pasif , tetapi terdiri dari proses ‘kreatif’ seleksi dan reorganisasi. Pemikiran dapat juga dianggap sebagai “instrumen untuk belajar”(Blakely,1972.hal.167)
Dalam segi ini pendidikan seumur hidup pada pokoknya berkenaan dengan belajar sebagai suatu sistem pendidikan. Kesimpulan, organisasi argumen buku ini sekitar inti senttral belajar sebagai suatu proses tidak ada jalan untuk mengartikan pendiddikan terkosentrasi pada suatu proses yang sempit yang terbatas hanya pada penguasaan pengetahuan kesarjanaan , profesi, atau jenis kejuruan. Pendidikan memang meliputi beberapa elemen seperti itu , disamping juga berkenaan dengan motivasi , kognitif, etika, estetika, dan pertumbuhan personal.

Pendidikan seumur hidup dan belajar seumur hidup
Perpanjangan perbedaan antara pendidikan dan belajar berguna dalam hal ini, yaitu perbedaan antara pendidikan seumur hidup dan belajar seumur hidup. Seperti yang telah dikemukakan, belajar dan pendidikan tidak sama,begitu juga pendidikan dan persekolahan. Juga dikemukakan bahwa belajar adalah proses seumur hidup yang berlangsung denagn atau tanpa persekolahan apa yang diterimanya. Seperti yang telah diketengahkan, karakteristik khusus persekolahan menyediakan dengan sengaja kondisi yang akan membantu jenis belajar tertentu. Jika, pendidikan seumur hidup adalah suatu tujuan atau ide yang memuat prinsip-prinsip mengorganisir persekolahan untuk membantu proses belajar seumur hidup, dan untuk mempengaruhinya sesuai dengan tujuan dan ide khusus. Salah satu tujuan pendidikan seumur hidup memodifikasi persekolahan untuk membentuk dan mengaruhi jenis belajar yang terjadi seumur hidup. Sistem sekolah diorganisir menurut prinsip pendidikan seumur hidup. Sistem sekolah diorganisir menurut prinsip pendidikan seumur hidup tidak akan menciptakan belajar seumur hidup karena belajar seumur hidup sudah berlangsung ), tetapi akan memuat usaha sengaja untuk mempengaruhi bentuk, tingkat dan kualitas belajar.

Pendidikan seumur hidup dan pengetahuan kejiwaan
Inovasi pendidikan dapat dievaluasi secara sah dengan cara menganalisis tempat bertumpunya prinsip-prinsip teoritis, dan menunjukkan bahwa inovasi pendidikan dapat dimengerti dalam istilah pengetahuan yang sudah ada, mengarah ke satu tujuan bahwa pendidikan seumur hidup dapat dievaluasi dengan menanyakan apa basis teoritisnya. Melakukan analisis menjadi tujuan utama dan jika dapat dilihat pendidikan seumur hidup konsisten dengan pengetahuan kejiwaan perkembangan manusia. Dengan studi prediktif ditetapkan tujuan operasional dan secara berurutan ditetapkan adanya korelasi atau ketidakadaan korelasi diantara keduanya seperti yang telah dikemukakan, problem keuangan dan keorganisasian sangat sulit dalam segi pembagian waktu, dan biasanya tidak dianggap penting.
Pendidikan seumur hidup esensinya lebih banyak merupakan suatu statemen gagasan daripada suatu proses yang dibuktikan secara ilmiah. Pendidikan seumur hidup mempunyai tujuan yang akan dicapai oleh pendidikan, prinsip-prinsip yang akan ditekankan, dan jenis-jenis orang yang akan ditolong perkembangannya. Sebagai tujuan pendidikan, paling tidak dirumuskan dalam bentuk abstrak, tujuan kejiwaan ideal pendidikan seumur hidup seperti terbinanya orang yang yakin,kreatif,mempunyai kemampuan intelektual,kepribadian yang baik,etis dan sebagainya. Pendidikan seumur hidup adalah menterjemahkan tujuan abstrak ke dalam rangkaian operasi kelas yang konkrit dan dapat di percaya untuk mencapai tujuan. Proses deduksi hipotesis klasikal memerlukan formulasi hipotesis tentang sifat-sifat terpenting kurikulum, menghubungkan antara unsur-unsur kurikulum dengan tingkah laku dalam kehidupan nyata dan memodifikasi unsur-unsur sistem yang dilihat tidak efektif. Pengembangan sistematik kurikulum memerlukan studi longitudinal yang meliputi satu generasi.
Perlu disadari secara jelas pendidikan seumur hidup adalah konsep abstrak yang meliputi tujuan-tujuan abstrak dan idealis, dan seberapa jauh kemampuan untuk direalisasikan belum diketahui. Adopsi prinsip pendidikan seumur hidup lebih lanjut, sebagian merupakan tindakan yang berdasarkan kepercayaan, beserta elemen politik masyarakat yang kuat. Bahwa untuk veliditas pendidikan seumur hidup perlu memasukkan prinsip-prinsip dasar yang valid untuk dijadikan titik tumpu, yang diambil dari pengetahuan empiris di bidang lain seperti ilmu jiwa.
Empat konsep kunci harus dijelaskan dalam hal ini. Pertama konsep pendidikan seumur hidup itu sendiri interrelasi dasar antara persekolahan dengan belajar, kehidupan dan pendidikan telah didiskusikan terperinci dalam pembicaraan terdahulu. Pendidikan seumur hidup didefinisikan sebagai tujuan atau ide formal untuk organisasi dan struktur pengalaman pendidikan. Organisasi dan struktur ini akan diperluas meliputi seluruh rentang usia, dari yang muda hingga tua, hal ini memerlukan basis institusi yang amat berbeda dengan basis yang mendasari persekolahan konvensional. Istilah “pendidikan seumur hidup” digunakan sehingga dapat dimengerti. (tujuan yang mengarahkan organisasi pendidikan).
Kedua, konsep utama yang dipergunakan adalah tentang “belajar seumur hidup” bahwa belajar terjadi seumur hidup dan tidak terikat dengan ada dan tidaknya konsep pendidikan seumur hidup, “belajar seumur hidup” akan dikelola dengan belajar konvensional seperti yang kita ketahui. Jadi kapan saja istilah pendidikan seumur hidup dipergunakan dan sangat penting untuk diperhatikan bahwa ia tidak mengacu pada proses belajar seumur hidup yang alamiah dan pasti terjadi tanpa organisasi sekolah. Ketiga, konsep yang berhubugan erat adalah tentang “pelajar seumur hidup” tampak bahwa seluruh orang adalah pelajar seumur hidup,terlepas dari cara-cara persekolahan yang dorganisir dalam masyarakat mereka. Pelajar seumur hidup akan digunakan untuk menyatakan orang-orang yang sadar tentang diri mereka sendiri sebagai pelajar, belajar merupakan cara yang logis untuk mengatasi problema dan mendorong untuk belajar diseluruh tingkat usia dan menerima tantangan dan perubahan seumur hidup sebagai pemberi kesempatan untuk belajar baru.
Konsep terakhir yaitu “kurikulum yang membantu pendidikan seumur hidup” kunci, pendidikan seumur hidup mempunyai implikasi terhadap cara mengajar. Yaitu cara mengajar yang seharusnya dilaksanakan berdasarkan prinsip pendidikan seumur hidup. Pendidikan seumur hidup adalah filsafat atau ide, pelajar seumur hidup dan belajar seumur hidup adalah hasil yang diharapkan, dan kuikulum yang membantu belajar seumur hidup adalah cara praktis yang harus dilalui untuk mencapai tujuan.

Struktur analisis
Belajar di sekolah pada esensinya merupakan kompleks variabel, kognitif, motivasi dan sosio efektif seperti yang telah dibicarakan. Analisis kejiwaan pendidikan seumur hidup akan diorganisir dalam tiga kerangka, tujuannya untuk menunjukkan bahwa asumsi kejiwaan secara implisit yang mendasari pendidikan seumur hidup dalam bidang fungsi kognitif, motivasi dan fungsi sosio efektif itu benar menurut pengetahuankejiwaan sekarang. Inkonsestansi serius kosep dasar pendidikan seumur hidup dengan pengetahuan kejiwaan sekarang akan mempengaruhi keyakinan para administrator pendidikan untuk mengimplementasikannya.
Sejak pendidikan seumur hidup memuat seperangkat tujuan yang jelas berbeda dengan tujuan pendidikan yang diorganisir sudah menunjukkan bahwa pendidikan seumur hidup menurut pengetahuan kejiwaan akan menyajikan basis yang memadai untuk mengkaji lebih jauh prinsip-prinsipnya. Penerimaan atau penolakan sangat mungkin akan bertumpu terhadap rumusan pendidikan seumur hidup itu sendiri. Seluruh analisis pengesahan pendidikan seumur hidup sebagai suatu prinsip yang terorganisir dan keputusan apa sistem sekolah yang ada dapat dimodifikasi menurut konsep pendidikan seumur hidup, tidak hanya bertumpu pada analisis kejiwaan. Inkonsistensi antara pendidikan seumur hidup dan pengetahuan kejiwaan mungkin menyebabkan tidak valid sub – sub prinsip pendidikan seumur hidup yang ditemukan atas dasar pertimbangan lebih lanjut. Pendidikan seumur hidup memerlukan pendidikan yang lebih kompleks di tinjau dari segi disiplin ilmu seperti ekonomi, sosiologi, administrasi dsb. Arah tersebut sudah dimulai oleh Dave (1974).
Analisis pendidikan seumur hidup dari sudut pandang kejiwaan merupakan aspek penting, meskipun elemen ini kurang di berikan penekanan. Aspek kedua ini berkenaan dengan implikasi pengetahuan, perencanaan kurikulum yang berorientasi pada pendidikan seumur hidup. Bab 4, 5, dan 6 meninjau kembali pengetahuan kejiwaan yang berkenaan dengan interaksi antara kehidupan dengan pengalaman dan belajar, dan meninjau kembali unsur mana dari prinsip – prinsip pendidikan seumur hidup. Meskipun telah dikemukakan bahwa syarat keberhasilan yang membantu pendidikan seumur hidup yang tidak terlalu di pentingkan untuk menganalisis konsep pendidikan seumur hidup, dan bukti seperti itu tidak pada umumnya disajikan waktu mengevaluasi kurikulum. Bab 7 mendiskusikan implikasi analisis kejiwaan pendidikan seumur hidup terhadap rancangan kurikulum. Dan bab 8 akan mengevaluasi secar kritis seluruh prinsip, terutama dari sudut pandang kejiwaan.

BASIS KEJIWAAN PENDIDIKAN
Lembaga pendidikan umumnya berstandarisasi dan menyeragamkan semua proses pendidikan khususnya disekolah.Standarisasi ini bertujuan untuk memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap proses pembelajaran seperti,bagaimana proses belajar berlangsung,apa yangharus dipelajari,kapan mempelajarinya dan lain sebagainya.Kenyataannya,penetapan tujuan-tujuan pendidikan yang disengaja selalu terpaut dengan bidang kejiwan,ekonomi,sosiopolitik,dan unsur-unsur sosiologis.kepercayaan tersebut secara eksplisit di nyatakan dalam pembukaan kurikulum atau sukar dikenali pelaksanaannya dalam sistem.
Ini bearti pendidikan seumur hidup juga berhubungan dengan seperangkat kepercayaan dalam bidang kejiwaan, sedangkan kepercayaan itu juga berhubungan dengan persekolahan konvensional,meskipun sifat-sifat kepercayaan secara tepat barangkali berbeda. Prinsip pendidikan seumur hidup mensyaratkan bahwa orang-orang harus belajar dengan cara tertentu, dibawah kondisi tertentu, dan akan berlangsung terus seumur hidup mereka. Juga mensyaratkan eksistansi orang-orang untuk tahu cara apa yang dipergunakan, dan apa tujuan belajarnya. Salah satu maksud teks ini adalah untuk membuat beberapa saran berdasarkan pada pengetahuan kejiwaan seekarang, sekitar bagaiman apendidikan seumur hidup itu akan disruktur agar mempengaruhi belajar seumur hidup. Bagaimanapun juga, rekomendasi ini memuat seperangkat kepercayaayn tentang seperti apa sebenarnya orang itu, dan apa tujuan belajar yang harus mereka cari , dan seperti apa manusia yang ideal itu,dan sebagainya. Fakta ini baik untuk diingat dan diolah dalam pikiran.
Pendidikan dan ilmu jiwa mempunyai interrelasi yang dalam. Kejelasan pengakuan terhadap fakta ini dapat dilihat peranan utama yang diberikan pada studi faktor-faktor kejiwaan dalam program pendidikan guru. Hubungannya kompleks, seperti yang telah dikemukakan oleh Rohwer(1970), dan bukan hasil keuntungan kolaborasi seperti yang diharapkan. Pendidikan juga diikaitkan dengan faktor-faktor lingkungan dalam kelas yang membantu belajar. Perhatian utama dalam psiokologi pendidikan adalah (a) sifat dan karakteristik siswa, (b) sifat proses belajar, (c) cara guru membuat proses belajar siswa, dan (d) penetapan prinsip – prinsip ilmiah (Ahmad Munib (2011)). Kondisi-kondisi ini tidak hanya sekedar seperangkat sekedul ”reinforcement” untuk meningkatkan kemungkinan bahwa respon tertentu akan muncul lebih banyak dimasa depan, dan yang lainnya kurang, tetapi juga kondisi-kondisi yang membantu belajardalam kelas meliputi faktor seperti tingkat kesulitan dan organisasi bahan. Jadi, pengelolaan belajar kelas menggunakan dasar pengetahuan dalan ilmu jiwa kognitif.
Sebagai tambahan belajar dalam kelas sangat tergantung dengan penerapan”iklim yang memotivasi” dengan tepat. Meskipun tidak bisa dilaporkan dalam literatur seperti ini, tingkah laku tikus dalam laboratorium menunjukan elemen-elemen perhatian dan maksud(purpose). Dalam kasus anak manusia yang balajar dalam kelas, faktor utama efisiensi belajar adalah keinginan untuk belajar itu sendirisecar psikologis merupakan fenomena yang kompleks. Fenomena tersebut meliputi apa yang disebut unsur-unsur ”sturtural,” seperti penerimaan oleh anak bahwa bahan yang sedang dia pelajari dalam banyak hal berharga. Teriakan bahwa bahan-bahan belajar dalam kelas tidak “relevan” atau bahan-bahan itu tidak dapat diterapkan dalam kehidupan nyata anak-anak, suatu contoh yang menjadi fokus dalam isu ini. Dari segi lain, motivasi positif juga meliputi apa yang disebut dengan variabel ”proses” seperti keinginan untuk menyenangi guru yang baik.
Faktor- faktor sosio affektif belajar dalam kelas meliputi pertanyaan apakah anak-anak merasa atau tidak, bahwa mereka dalam kelas berada ditengah-tenagh temannya, bahwa belajar adalah sesuatu yang wajar dan mudah dikerjakan, bahwa sekolah adalah alat yang bernilai dalam kehidupan, dan ssebagainya. Ini dapat disimpulkan dengan apakah anak merasa atau tidak bahwa mereka milik kelas dan kelas adalah milik mereka.

Faktor-faktor kejiwaan dalam tujuan pendidikan.
Pengelolaan belajar kelas yang sukses adalah suatu fenomena yang memuat elemen kejiwaan sebagai bagian yang amat penting. Basis kejiwaan pendidikan sama sekali tidak terbatas pada pengelolaan belajar dalam kelas. Seperti yang telah dikemukakan dalam bab dua,eleman utama persekolahan formal adalah pengelolaan pengalaman anak-anak yang disengaja selama proses persekolahan formal untuk mencapai perubahan tingkah laku yang diinginkan.
Amat sangat penting untuk diperhatikan bahwa tujuan-tujuan seperti ini, meskipun dikatakan muncul dari bukti-bukti yang dapat di pertanggungjawabkan secara”ilmiah” namun kenyataannya sangat tergantung dengan faktor-faktor sosio politik seperti kepercayaan umum tentang heredity dan environment dalam perkembangan manusia. Sebagai contoh, amat mengejutkan sekali bahwa pada abad ke 19, training transfer dalam sistem pendidikan Inggri secara luas diterima sebagai kunci konsep kejiwaan, sedangakan pandangan sosio politik bahwa perbedaan individu hampir seluruhnya sebagai hasil heredity, dan dengan heredity ditransmisikan superioritydan inferiority.Hasil penelitian yang dilakukan oleh Vanderbilt Univercity dalam jurnal prospektif ” Perspectives on Psychological Science” terhadap 5000 orang siswa yang di anggap berbakat menunjukan bahwa untuk menjadi genius dibutuhkan beberapa faktor antara lain kemampuan kognitif, kesempatan belajar dan kerja keras.

Tujuan pendidikan sekarang
Selanjutnya fungsi dan tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang tercantum di dalam UU No.20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Walaupun dalam pernyataan terdahulu tentang tujuan pendidikan jelas memilki basis kejiwaan dan bertumpu pada bodi pengetahuan kejiwaan(tertanam dalam pikiran bahwa interperensi pengetahuan ini sangat dipengaruhi oleh faktor –faktor sosio politik), hanya dalam tulisan tulisan yang lebih mutakhir, kejiwaan secara eksplisit dijadikan statemen untuk tujuan pendidikan . khususnya dalam menghadapi ketidakpastian sifat-sifat dunia di masa mendatang ditekankan dalam bab 1dan 2, para penulisn sekarang lebih banyak menitik beratkan pada peranan pendidikan dalam membantu pola tertentu pertumbuhan kejiwaan anak. Mengemukakan batasan pengertian pendidikan adalah suatu bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai tujuan, yaitu kecerdasan. Beberapa aspek yang berhubungan dengan usaha pendidikan, yaitu bimbingan sebagai suatuproses, orang dewasa sebagai pendidik, anak sebagai manusia yang belum dewasa, dan yang mutakhir adalah tujuan pendidikan .Kenyataanya, semakin eksplisit dalam tulisan tentang tujuan pendidikan sekarang ini, bahwa tujuan pendidikan pada hakekatnya adalah masalah kejiwaan hubungan anatara ilmu jiwa dengan pendidikan menjadi lebih pesifik. Proses dan isi persekolahan didasarkan atas kepercayaan kejiwaan tentang bagaimana terjadinya belajar dan apa yang harus dipelajari. Sebagai tambahan, tujuan pendididkan didasarkan pada kepercayaan kejiwaan tentang apa yang dibutuhkan orang-orang jika mereka ingin hidup memuaskan, apa yang menyebabkan kepuasan hidup , dan sebagaainya.

MENILAI PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
Dalam argumentasi yang telah dikembangkan jelas dimungkinkan dan malah diinginkan untuk menganalisis pendidikan dari sudut pandang assumsi kejiwaan yang mendasari struktur, proses dan tujuan pendidikan. Banyak analisis pendidikan modern disajikan dlaam bab-bab dan bertentanagann dengan assumsi-assumsi pendidikan seumur hidup yang mempunyai basis kejiwaan. Ini tidak di maksudkan untuk menolak bahwa ia juga mempunyai aspek ekonomi,elemen-elemen administrasi , dan sebagainya. Umpamanya pertanyaan bagaimana kelas diorganisasi jawabanya meliputi issu ekonomi,administratif,dan juga kejiwaan. Dengan demikian, seperti yang telah dikemukakan. Terdapat eleman-eleman kejiwaan dalam inti proses pendidikan, dan masalah ini menjadi pusat pembicaraan dalam teks ini.

Pendidikan dan ideologi
Dengan diterimanya pandangan yang telah dikemukakan bahwa pendidikan amat luas kaitannya dengan faktor-faktor kejiwaan, karena itu evaluasi sistem pendidikan jelas sekali harus berdasarkan kriteria kejiwaan. Hal ini tepat sekali menjadi tujuan penyajian buku ini. Bagaimanapun juga, evaluasi pendidikan(kejiwaan atau yang lainnya langsung berhadapan dengan problem praktis, yaitu bagaimana melaksanakanya. Tujuan-tujuan pendidikan mau tidak mau dinyatakan sebagai suatu ranguman gagasan. Bahkan di mana ada usah dibuat untuk mendiskripsikan hasil-hasil yang diharapkan secara lebih mendetil, deskripsi itu akan tetapdi tulis dalam istilah abstrak . jadi, khusus kurikulum harus dinyatakan dengan istilah seperti “produksi pelajaar yang disiapkan dengan baik untuk berfungsi sebagai warga negara,” atau “pengembangan berpikir logis daan kritis dalam diri pelajar.” Tidak satupun deskripsi tersebut yang operasianal dibandingkan dengan statemen seperti’pengembangn pelajar yang meminjam anatara 3 sampai 5 buku dari perpustakaan dalam minggu tertentu .”
Bahkan tujuan kejiwaan pendidikan umumnya dinyataka dalam bentuk ide abstrak. Lebih jauh lagi , ide-ide ini dengan jelas cenderung untuk memuat aspek-aspek politik, seperti yang telah dikemukakan. Dalam masyarakat yang menjunjung tinggi nilai penyesuaian dengan norma-noram masyarakat agar menjadi warga negara yang baik, ide-ide pendidikan yang berkaitan dengan peranan sekolah dalam membantu ”warga negara yang baik“ akan menjadi statement abstrak. Seperti statemen yang membanjir dalam kurikulum dan teks book pendidikan di amerika serikat pada tahun1950.an. sebaliknya masyarakat pada waktu tertentu dalam perkembangannya memuja ilmu pengetahuan abstrak, mereka mengembangkan tujuan pendidikan yang menitikberatkan isi ilmu pangetahuan yang mencerminkan keilmuan yang tinggi (seperti bahasa latin, bahasa yunani, dan matematika pada abad ke19 di Inggris) masyarakat yang menekankan pentingnya kerjasama , tidak ada kompetisi , dan pengehormatan terhadap negara akan menitikberatkan tujuan pendidikan dalam segi ini, sedangakan masyarakat yang umumnya menyenangi individulisme, kompetisii, dan aktivitas kewiraswastaan akan memasukkan keyakinan ini dalam tujuan pendidikan mereka.
Kenyataan yang berkembang kemudian, tujuan pendidikan sangat bersifat ideologis. Jauh dari kenyataan konkrit,operasional dan universal. Dan dapat diduga semua tujuan bersifat idealistis, dan sangat terpengaruh dengan ideologi yang populer pada waktu itu. Hal ini denagn mudah dapat dilihat dari kajian pernyataan yang menyangkut tujuan pendidikan masa sekarang tujuan yang di tetapkan mencerminkan ideologi yang berlaku pada waktu para pengembang kurikulum menerima pendidikan mereka. Dan para pembangakang dalam bidang pendidikan mengusulkan kurikulum yang dikembangkan dalam istilah ideologis yang menurut masyarakat mereka “maju” “radikal” dan ‘progresif” dan sebagainya. Konsekuensinya amat penting untuk dimengerti bahwa gagasan pendidikan seumur hidup adalah ( a) tujuan atau gagasan yang abstrak, (b) dimodifikasi oleh ideologi sekarang atau paling tidak,kepercayaan-kepercayaan sosio politik masyarakat tempat para pengajur berada,(c)dinyatakan dengan cara abstrak dan idealistis,tidak dengan cara spesifik dan operasional.

Daftar Pustaka
Joesoef, Daoed.(2009). Persekolahan dan Pendidikan. http://averroes.or.id. di unduh 6 Desember 2012 pukul 13.16 WIB.
Munib, Achmad. 2011. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang : UNNES PRESS.
Vanderbilt University , 2006. ” Perspectives on Psychological Science”. http://clubbing,kapanlagi.com. diunduh pada tanggal 6 Desember 2012.10.41.
Undang – Undang No.20. 2003, Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003. Jakarta : Sinar Grafika.

Pengantar Ilmu Psikologi

Psikologi berasal dari perkataan psyche yang diartikan jiwa dan perkataan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Psikologi sering diartikan dan diterjemahkan sebagai ilmu pengetahuan tentang jiwa. Psikologi merupakan suatu ilmu yang meneliti serta mempelajari tentang prilaku atau aktivitas – aktivitas dan perilaku serta aktivitas –aktivitas itu sebagai manifestasi hidup kejiwaan.
Dalam masalah perkembangan manusia terdapat faktor – faktor yang mempengaruhinya. Teori nativis menyatakan bahwa perkembangan manusia itu berasal dari faktor keturunan yang di turunkan sejak dilahirkan. Teori empirisme menyatakan perkembangan manusia berasal dari pengalaman – pengalaman yang di perolehnya. Dan terori konvergensi merupakan penggabungan antara teori empirisme dan nativisme yakni perkembangan manusia berasal bawaan dari lahir serta pengalaman – pengalaman yang didapat.
Beberapa pandangan dari Psikologi, Psikologi fungsional yeng memandang psikis (mind) sebagai fungsi atau digunakan oleh organisme untuk menyesuaikan atau beradaptasi dengan lingkungannya. Psikologi Behaviorisme memandang bahwa kesadaran merupakan hal yang dubious, sesuatu yang tidak dapat diobservasikan secara langsung dan secara nyata. Psikologi Gestalt adalah berpusat bahwa apa yang dipersepsi itu merupakan suatu kebulatan, suatu unity atau suatu Gestalt. Psikologi Psikoanalisis memiliki tujuan membawa ke tingkat kesadaran mengenai ingatan atau pikiran – pikiran yang direpres atau ditekan, yang diasumsikan sebagai sumber perilaku yang tidak normal dari pasiennya. Psikologi Humanistik yakni psikologi harus mempelajari kedalaman sifat manusia, selain mempelajari perilaku yang Nampak juga mempelajari perilaku yang tidak Nampak mempelajari ketidaksadaran sekaligus mempelajari kesadaran. Psikologi Kognitif memandang psikologi sebagai suatu ilmu tentang perilaku dan proses mental (the science of behavior and mental processes).
Telah dikemukakan bahwasannya manusia merupakan makhluk yang berjiwa dan kenyataan ini kiranya tidak ada yang membantah, dan kehidupan kejiwaan itu direfleksikan dalam perilaku, aktivitas manusia. Berikut akan dipaparkan mengenai pristiwa – peristiwa kejiwaan dari manusia.
Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses pengindraan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera atau juga disebut proses sensoris. Faktor – faktor yang berperan dalam persepsi yakni objek yang dipersepsi, alat indera, syaraf, dan pusat susunan syaraf, dan perhatian. Proses terjadinya persepsi, objek menimbulkan stimulus, dan stimulus mengenai alat indera atau reseptor, stimulus yang diterima oleh alat indera di teruskan oleh syaraf sensoris ke otak (terjadi proses kesadaran).
Ilusi merupakan kesalahan individu memberikan interprestasi atau arti terhadap stimulus yang diterimanya. Biasanaya halusinasi merupakan pendahuluan ketidak normalan jiwa. Dengan uraian ini akan jelas perbedaan antara halusinasi dengan ilusi. Terdapat faktor yang mempengaruhinya yakni faktor ke-alaman, faktor stimulus dan faktor individu.
Bayangan atau tanggapan yakni suatu kemampuan membayangkan dan menanggap kembali hal – hal yang telah diamati. Bayangan eidetic merupakan bayangan yang sangat terang, sangat jelas seperti mengahadapi objeknya sendiri. Halusinasi merupakan kondisi dimana individu merasa bahwa ia seakan – akan menerima sesuatu stimulus yang sebenarnya secara objektif stimulus tersebut tidak ada.
Fantasi ialah kemampuan jiwa untuk membentuk tanggapan – tanggapan atau bayangan – bayangan baru. Fantasi bisa disadari dan bisa tidak disadari. Macam – macam fantasi fantasi menciptakan, fantasi mengabstraksi, fantasi mendeterminasi, dan fantasi mengombinasi.
Ingatan yakni apa yang pernah dialami oleh manusia tidak seluruhnya dilang, tetapi disimpan dalam jiwanya dan apabila diperlukan hal – hal yang disimpan itu dapat ditimbulkan kembali dalam alam kesadaran. skema dalam ingatan yakni learning (memasukkan) – retention (menyimpan) dan remembering (mengeluarakan kembali).
Belajar merupakan suatu proses, yang mengakibatkan adanaya perubahan perilaku (change in behavior or performance). Ini berarti setelah belajar individu mengalami perubahan dalam perilakunya. Perilaku dalam arti overt behavior atau inert behavior. Problem solving adalah directed, yang mencari pemecahan dan dipicu untuk mencapai pemecahan tersebut.
Intelegensi, menurut panitia Padagogik (1953) yang mengangkat pendapat Stern yakni daya penyesuaian diri dengan keadaan bau dengan menggunakan alat – alat berpikir menurut tujuannya. Setiap individu memiliki intelegensi yang berbeda dikarenakan perbedaan dalam prose belajar dalam segi intelegensinya.
Perasaan dan emosi disifatkan sebagai suatu keadaan kejiwaan pada organism atau individu sebagai akibat adanya peristiwa atau presepsi yang dialami oleh organisme. Persaan adalah keadaan individu sebagai akibat dari presepsi terhadap stimulus baik eksternal maupun internal. Emosi merupakan reaksi yang kompleks yang mengandung aktivitas dengan derajat yang tinggi dan adanya perubahan dalam kejasmanian serta berkaitan dengan perasaan yang kuat.
Motif sebagai pendorong pada umumnya tidak berdiri sendiri, tetapi saling kait mengait dengan faktor – faktor lain. Hal – hal yang dapat mempengaruhi motif disebut motivasi. Motivasi merupakan keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku ke arah tujuan. Motivasi mempunyai 3 aspek yakni (1) keadaan terdorong dalam diri organisme, (2) perilaku yang timbul dan terarah karena keadaan, dan (3) goal atau tujuan yang dituju oleh prilaku tersebut.

 

Disusun untuk memenuhi tugas Pendidikan Agama Islam (PAI)

Oleh    :

Farizal Ainur Akbar               1201412047

Tahukah anda banyak tradisi dari Agama Hindu yang masih di lakukan oleh para masyarakat Agama Islam di sekitar kita ini? Padahal ajaran dari Agama Islam sangatlah berbeda dengan ajaran dari Agma Hindu. Dan apakah kita masih pantas melaksanakan ajaran dari Agama Hindu di agama Islam? tentu saja tidak. Jika kita mengaku akan Agama Islam tentu saja kita haruslah melaksanakan dari syariat dari Agama Islam sesungguhnya.

Surat Al Baqarah ayat 42 yang artinya

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dan dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahuinya.

Surat Al Baqarah ayat 82 yang artinya

dan orang – orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga : mereka kekal di dalamnya.

Surat Al An’am ayat 82 yang artinya

Orang – orang yang beriman dan tidak mencampur adukan iman mereka dengan kelaliman (syirik), mereka itulah orang – orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang – orang yang mendapat petunjuk.

Surat Maa-idah ayat 3 yang artinya

Pada hari ini Telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi Agama bagimu.

H.R Muslim, kitab Al- Aqdhiyah

Dan Aisyah RA sesungguhnya Rasululah SAW bersabda, “Barang siapa melakukan suatu amalan, dan tidak didasarkan amalan itu dengan perintah kami maka amalan itu menjadi tertolak.”

Berikut ini saya akan membahas beberapa tradisi Agma Hindu yang masih di laksanakan oleh masyarakat Agama Islam di sekitar kita ini.

1. Tradisi Kelahiran Dalam Agama Hindu

Dalam Agama Hindu adanya ajaran dalam tradisi “GARBA WEDANA” yakni Tradisi orang hindu di saat orang hindu mengandung, yang terdiri dari

  • Sepasaran
  • Telonan
  • Tingkepan (orang usia hamil 7 bulan)

Pada acara Tingkepan merupakan acara yang paling di sakralkan dari “GARBA WEDANA” dalam acara ini di sediakan tumpeng berikut makanan makanan dan dibacakan surat-surat dari kitab suci SRUTI VEDA, SMRTI VEDA tujuannya di bacakan surat tersebut agar anak di dalam kandungan di berikan keselamatan, dan ketika lahir agar tampan seperti dewa Brahmana dan kalau perempuan agar cantik seperti Ibu Saraswati.

Sedang dikalangan muslim di sekitar kita acara tingkepan juga di bacakan doa – doa dan ayat ayat dari Alquran. Seperti di bacakan surat Yusuf agar kelak kalu lahir tampan seperti Nabi Yusuf AS dan di bacakan surat Maryam agar kelak cantik seperti Maryam.

  • Piton-piton
  • Nanam Ari-ari

Setelah ari ari terlepas dari si Bayi di bersihkan dan di masukkan dalam tempurung kelapa dengan di beri wangi- wangian dan ditutup dengan kain putih kemudian di tanam, bila bayi lahir laki – laki maka di tanam kanan pintu dan kalau bayi itu lahir perempuan di tanam sebelah kiri pintu depan rumah. Dan ditutup pada  malam hari diterangi dengan diberi lampu. Semua itu di maksudkan ketika Para Dewa Turun dari Nirwana Menuju Dunia tidak langsung menuju si bayi tetapi langsung menuju ari – ari di karenakan ari – ari memiliki hubungan darah dengan si bayi tersebut.

Terlebih lagi umat islam di sekitar kita melakukannya tanpa tahu maksud tersebut dan tanpa mengetahui dalil dari mana mereka melakukannya, mereka hanya mengikuti leluhurnya.

Dasar dan dalil dari “GARBA WEDANA”

Kitab SAMA WEDA  sloka 7 ayat 85

“Diantara dua tempat nyala terdapat jata weda laksana benih suci terpelihara dengan baik pada wanita mengandung. Agni di hari ke hari harus dipelihara manusia yang memelihara dengan membuat persembahan (telonan, sepasaran, tingkepan, piton –piton dan nanam ari-ari) kepada Tuhan.

Tradisi tradisi tersebut adalah ajaran tradisi Agama Hindu yang terdapat di dalam kitab agama Hindu. Dan kebanyakan dari masyarakat Islam di sekitar kita mejalankannya, padahal di kitab Al-Quran dan As sunah tidak terdapat ajaran tersebut.

Al – Baqarah ayat 170 yang artinya

Dan apabila dikatakan kepada mereka; Ikutilah apa yang telah di turunkan Allah, mereka menjawab (tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.(apaka mereka akan  mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?

Islam adalah Diinul Kholis, yaitu agama yang murni, yang agama tidak tercampuri oleh segala macam kesyirikan dan praktek –praktek lainnya yang dapat merusak kemurnian agama. Karena itu Islam harus di jauhkan dari segala unsure kesyirikan dan yang lainnya yang dapt mengotori kemurnian Islam.

Dan sedangkan dalam Islam ketika anak lahir itu harusnya dilaksanakan Aqiqah. Dan yang dianjurkan oleh agama Islam Aqiqah dilakukan setelah anak berumur 7 hari. Untuk anak laki laki dengan menyembelih 2 kambing, sedang untuk perempuan menyembelih 1 kambing.

2. Tradisi Hindu.

A.Tradisi Larung Sesaji

Di dalam Agama Hindu Larung saji bertujuan untuk memeberi sesembahan kepada para Dewa agar di berikan berkah dari para dewa. Ironisnya umat Islam di sekitar kita pun melakukannya. Sebagai contoh pada satu muharam di pantai selatan sering dilaksanakan ritual dari larung sesaji untuk di berikan kepada Nyai Roro Kidul bertujuan agar Nyai Roro Kidul memberikan berkah kepada penduduk di sekitar pantai selatan.

Dan Allah telah berfirman dalam Surat Adz Dzariyaat ayat 57 “ Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak mengehendaki supaya mereka member Aku makan.”

Pada hal kalau di kembalikan pada surat Al-Araf ayat 96 yang artinya “ jikalau sekiranya penduduk negeri – negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan  kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka Kami siksa mereka di sebabkan perbuatannya.

B. Acara Slametan

Acara ini dalam agama Hindhu bertujuan untuk meminta keselamatan dari dewa dewanya.  Tidak jauh beda dengan tradisi acara larung saji di agama hindu.

Sedang yang diajarkan oleh Agama Islam adalah akan perilaku bersedekah kepada sesame.

C. Brobosan Mayit

Brobosan mayit di laksanakan maksudnya mereka harus lewat di bawah jenasah yang sedang di tandu mau di berangkatkan kemakam dengan urutan brobosan anak yang lebih tua terlebih dalu dengan maksud supaya yang mati ingat yang masih hidup dan sebagai wujud bakti kepada orang tua dan salam dewa yang ada di nirwana.

Dan dalam agama Islam tidak dikenal adanya brobosan mayit namun sebagian diantara kita yang berumat islam masih di jumpai tradisi melakukan brobosan mayit dalam acara penguburan mayit.

D. Kijing Makam

Orang Hindu yang tidak mampu langsung mengadakan acara ngaben, biasanya sebelum di kremasi atau di ngaben di tempatkan dalam kuburan dan makamnya diatasnya di berikan kijing terlebih dahulu menunggu adanya pembakaran ngaben massal. Dengan maksud supaya mayatnya tertetutup sebelum di ngaben

Dan dalam Agama Islam kuburan di beri kijing itu tidak ada, di Islam hanya menguburkan mayat tanpa adanya kijingan. Rosulullah SAW pernah bersabda “kalau umat Islam ini mati diatasnya di berikan kijingan kelak kalau Allah SAW sudah membangkitkan dari alam kubur maka dia akan kesulitan bangkit dari alam kubur”.

E. Tebar Bunga

Orang Hindu ketika mati diatas keranda dan makamnya di berikan bunga – bunga berwarna putih, merah dan kuning dikarenakan Bunga Putih menandakan dewa Brahmana, Bunga  merah menandakan dewa Wisnu  dan Bunga kuning menandakan dewa Sywa.

Sedang di Islam tidak mengenal akan adanya tebar bunga, namun masih sering di temukan tradisi tebar bunga di masyarakat islam di sekitar kita, terlebih saat pemakaman dan ziarah kubur.

F. Ritual setelah penguburan

Dalam agama Hindu setelah acara penguburan anggota keluarga mengadakan slametan 7 hari, 40 hari, 1 tahun , 2 tahun dan 1000 hari. Dasarnya di tulis dalam kitab suci agama Hindu  Antarkanlah persembahanmu, dan doa itu kepada roh leluhurmu sang hyang widhi, karmapala, dan Moksa selama 7 hari,  40 hari, mendak pisan mendak pindo, nyewu”

Sedangkan di Islam tidak ada ayat dari Al-Quran dan hadist yang menyebutkan tentang tradisi untuk melaksanakan 7 hari, 40 hari, 1 tahun, 2 tahun, dan 1000 hari di ajaran Agama Islam, namun di masyarakat umat Islam kita masih melakukan hal tersebut.

G. TUMPENG

Tahukah anda bila tumpeng berasal dari tradisi Agama Hindu? Tumpeng berasal dari Agama Hindu yang menggambarkan tentang Trimurti (tiga dewa dalam agama Hindu). Bentuknya yang berbentuk segitiga mengkerucut menggambarkan akan Tiga Dewa dalam Agama Hindu yakni dewa Shiwa, Dewa Wisnu dan Dewa Brahma.

Sedangkan masyarakat Islam di sekitar kita masih mengadakan syukuran memakai tumpeng sebagai makanan utama dalam pelaksanaannya.

Kesimpulan :

Sebagai orang Islam kita haruslah mencerminkan sikap muslim. Yang artinya sebagai seseorang yang muslim kita berprilaku yang murni ada di ajaran Agama Islam, jangan di sangkut pautkan dengan ajaran dari agama lain.

Dan maka kita sebagai umat Islam haruslah mengamalkan hal – hal yang telah di perintahkan Allah SWT dan yang telah di ajarkan oleh nabi Muhammad SAW. Bukannya melakukan hal hal yang telah diajarkan oleh nenenk moyang kita yang tak tahu akan darimana tradisi itu berasal.

Macam – Macam Surga dan Penghuninya

Macam-macam Surga:
1. SURGA FIRDAUS: surga yang diciptakan dari emas yang merah dan diperuntukan bagi orang yang khusyuk sholatnya, menjauhkan diri dari perbuataan sia-sia, aktif menunaikan zakat, menjaga kemaluaannya, memelihara amanah, menepati janji, dan memelihara sholatnya. Firdaus, disediakan bagi orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, menjauhkan diri daripada perbuatan maksiat, tidak membuat kemungkaran, serta menjalankan segala yang diperintahkan-Nya. Allah menjadikan penghuni Surga ini sebagai kekasih-Nya.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah Surga Firdaus menjadi tempat tinggal. (Al-Kahfi, 18:107)

Di dalam Surga Firdaus, terdapat empat sungai yaitu:

Di dalamnya juga diperolehi berbagai macam buah-buahan. Ada lagi empat mata air yaitu: Salsabil, Zanjabil, Rohiiq, dan Tasniim. Ada lagi dua mata air yang mengalir dan dua mata air yang memancar, yaitu Al-kaafuur dan Al-kautsar.Di dalamnya juga disediakan segala sesuatu yang tidak pernah dilihat, tidak pernah didengar, tidak pernah terlintas dalam hati manusia.
2. SURGA ‘ADN: surga yang diciptakan dari intan putih dan diperuntukkan bagi orang yang bertakwa kepada Allah (An Nahl:30-31), benar-benar beriman dan beramal shaleh (Thaha:75-76), banyak berbuat baik (Fathir: 32-33), sabar, menginfaqkan hartanya dan membalas kejahatan dengan kebaikan (Ar-Ra’ad:22-23) Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, (Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang sholeh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan), “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. 13:23-24)
3. SURGA NAIM: surga yang diciptakan dari perak putih dan diperuntukkan bagi orang-orang yang benar-benar bertakwa kepada Allah dan beramal shaleh. Al Qalam: 34

“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya.” (Q.S. Al-Qalam [68]: 34)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka surga-surga yang penuh kenikmatan” (Q.S. Luqman [31]: 8)

“Kekuasaan di hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh adalah di dalam surga yang penuh kenikmatan.” (Q.S. Al-Hajj [22]: 56)
4. SURGA MA’WA: surga yang diciptakan dari jamrud hijau dan diperuntukan bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah (An Najm: 15), beramal shaleh (As Sajdah: 19), serta takut kepada kebesaran Allah dan menahan hawa nafsu (An Naziat : 40-41)

a. Orang-orang yang benar-benar beriman dan beramal saleh.
“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. As-Sajdah [32]: 19)

b. Orang-orang yang takut pada kebesaran Allah Swt. dan menahan diri dari hawa nafsu buruk.
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surga tempat tinggal(nya).” (Q.S. An-Naazi‘aat [79]: 40-41)
5. SURGA DARUSSALAM: surga yang diciptakan dari yakut merah dan diperuntukkan bagi orang yang kuat imannya dan Islamnya, memperhatikan ayat-ayat Allah serta beramal shaleh. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, “Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.” (Q.S. Al-An’aam [6]: 127)
6. SURGA DARUL MUQAMAH: surga yang diciptakan dari permataa putih dan diperuntukkan bagi orang yang bersyukur kepada Allah.
Kata Darul Muaqaamah berarti suatu tempat tinggal dimana di dalamnya orang-orang tidak pernah merasa lelah dan tidak merasa lesu. Tempat ini diperuntukkan kepada orang-orang yang bersyukur sebagaimana yg disebutkan di dalam surat Faathir ayat 35. Sedangkan surga Darul Muaqaamah ini terbuat dari permata putih. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, “Dan mereka berkata:”Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. (QS. 35:34-35
7. SURGA AL-MAQAMUL AMIN: surga yang diciptakan dari permata putih.
Kata Al-Maqamul Amin menurut Dr M Taquid-Din dan Dr M Khan berarti tempat yang dan diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa. Sedangkan surga Al-Maqamul Amin ini terbuat dari permata putih. Karena penduduknya kekal di dalamnya dan tidak akan berpindah ke alam (tempat) lain. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, ”Katakanlah, “Apakah (azab) yang demikian itu yang baik, atau surga yang kekal yang dijanjikan kepada orang- orang yang bertaqwa?” Surga itu menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka.” (QS. Al-Furqan:15) “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman.” (Q.S. Ad-Dukhan [44]: 51)
8. SURGA KHULDI: surga yang diciptakan dari marjan merah dan kuning diperuntukkan bagi orang yang taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya (orang-orang yang bertakwa).“Katakanlah, ‘Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau surga yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa? Dia menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka.’” (Q.S. Al-Furqan [25]: 15)

Nama – Nama Neraka dan Penghuninya

1. NERAKA HAWIYAH: diperuntukkan atas orang-orang yang ringan timbangan amalnya, yaitu mereka yang selama hidup di dunia mengerjakan kebaikan bercampur keburukan. Orang muslim laki-laki maupun perempuan yang perbuatan sehari- harinya tidak sesuai dengan ajaran Islam, maka Hawiyah sebagai tempat tinggalnya. Mereka ini yaitu orang yang tidak mau menerima syariat Islam, tidak mau memakai jilbab (bagi wanita), memakai sutra dan emas (bagi lak- laki), mencari rejeki dengan cara tidak halal, memakan riba dan lain sebagainya.
2. NERAKA JAHIM adalah neraka sebagai tempat penyiksaan atas orang-orang musyrik atau orang-orang yang menyekutukan ALLAH, maka sesembahan mereka akan datang untuk menyiksa mereka. Orang yang di dunia menyembah sapi (bangsa Hindu) maka sapi yang akan menyiksa orang itu. Orang yang menyembah patung berbentuk hewan, maka patung itu yang akan menyiksanya. Dan demikian selanjutnya. Syirik disebut sebagai dosa yang paling besar menurut ALLAH, karena syrik berarti mensekutukan ALLAH atau menganggap ada mahluk yang lebih hebat dan berkuasa sehebat ALLAH. Syirik dapat pula berarti menganggap ada Tuhan lain selain ALLAH.
3. NERAKA SAQAR adalah tempat untuk orang-orang munafik, yaitu orang-orang yang mendustakan (tidak mentaati) perintah ALLAH dan Rasulullah. Mereka mengetahui bahwa ALLAH sudah menentukan hukum Islam melalui lisan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tetapi mereka meremehkan syariat (hukum) Islam. Maka dibakar dalam api adalah hukuman untuk mereka.
4. NERAKA LAZZA: neraka yang bergejolak apinya dan mengelupaskan kulit kepalanya. [QS:70. Al Ma´aarij] 15-18
5. NERAKA HUTHAMAH: itu disediakan untuk orang yang suka mengumpulkan harta, serakah dan menghina orang-orang miskin. Mereka berpaling dari agama, tidak mau bersedekah dan tidak mau pula membayar zakat. Mereka juga memasang wajah masam apabila ada orang miskin yang meminta bantuan. Maka ALLAH membalas dengan menyiksa mereka dengan cara menguliti dan mengelupaskan kulit muka mereka. Serta membakar mereka semau yang ALLAH mau. NERAKA HUTHAMAH disediakan untuk gemar mengumpulkan harta berupa emas, perak atau platina, mereka serakah tidak mengeluarkan zakat hartanya dan mencela menghina orang-orang miskin. Maka di Huthamah harta mereka dibawa dan dibakar untuk diminumkan sebagai siksa kepada manusia pengumpat pengumpul harta.
6. NERAKA SAIR diisi oleh orang-orang kafir. Dan orang yang memakan harta anak yatim. Kafir berasal dari kata kufur yang berarti ingkar atau menolak. Sehingga kafir dapat diartikan menolak adanya ALLAH atau dengan membantah perintah ALLAH dan Rasul-NYA. Jadi manusia kafir itu terdiri dari: Orang yang tidak beragama Islam atau orang yang tidak mau membaca syahadat. Orang Islam yang tidak mau shalat. Orang Islam yang tidak mau puasa. Orang Islam yang tidak mau berzakat
7. NERAKA WAIL disediakan untuk para pengusaha dan pedagang yang culas, mengurangi timbangan, mencalo barang dagangan untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat. Maka dagangan mereka dibakar dan dimasukkan ke dalam perut mereka sebagai azab atas dosa-dosa mereka.
8. NERAKA JAHANAM: Neraka tempat penyiksaan itu kemudian banyak disebut orang dengan nama jahanam. Neraka yang paling dalam dan berat siksaannya. [QS: 15. Al Hijr] 43-44

Penghuni Neraka seperti yang diterangkan dalam surah Al Baqarah 24 maksudnya: “Maka takutlah kamu kepada neraka yang bahan bakarnya ialah manusia dan batu-batu.

Neraka itu disediakan bagi mereka yang kafir”. Tingkatan Neraka antara lain; neraka Jahannam, Luza, Hathamah, Sair, Saqru, Jahim dan Hawiyah. ” Asyhadu ala ila ha ilallah Astaghfirullah Nas alluka ridhoka wal jannah ta wa naudzubika min sakhotika wannaar “

7 Tingkatan neraka

”Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah seperti orang yang mendapatkan kemurkaan dari Allah.” (QS. Âli Imran [3]:162).

1. Neraka jahanam.

Jahannam Adalah tingkat yang atas sekali. yaitu tempat mukminin,mukminat,muslimin dan muslimat yang melakukan dosa kecil maupun besar “….Demi Neraka jahanam di datangkan untuk semua orang walaupun hanya lewat / mampir dalam 1 hari” Firman Allah SWT: “Bahwasanya orang-orang kafir dan orang aniaya itu tidak akan diampuni Allah, dan tidak pula ditunjuki jalan, melainkan jalan ke Neraka Jahannam.

Mereka kekal dalam neraka itu selama-lamanya. Yang demikian itu mudah sekali bagi Allah.” (Q.S. An-Nisa’ : 169)

2. Neraka ladhoh, Luza

Tingkat kedua yaitu tempat orang yang mendustakan agama Firman Allah SWT : “Sebab itu Kami beri kabar pertakut kamu dengan Neraka Luza (neraka yang menyala-nyala). Tiada yang masuk kedalamnya selain orang yang celaka.Yaitu orang yang mendustakan agama dan berpaling dari pada-Nya.” (Q.S. Al-Lail : 14-16)

3. Neraka Khutamah, Hathamah

Inilah neraka tingkat ketiga. yaitu yaitu tempat orang yang hanya lalai memikirkan dunianya tanpa mengerjakan kebutuhan/kepentingan untuk ibadahnya. Harta yang membuat orang durhaka. Firman Allah SWT : “……….Tahukah engkau apakah Hathamah itu? Yaitu api neraka yang menyala-nyala yang membakar hati manusia. Api yang ditutupkan kepada mereka. Sedangkan mereka itu diikatkan pada tiang yang panjang.” (Q.S. Al-Humazah : 4-9)

4. Neraka sair , Sair

Tingkat ke-empat yaitu yaitu tempat orang yang tidak mau mengeluarkan zakat atau bagi mereka yang mengeluarkan tapi tidak pada porsinya dan Dalam neraka ini ditempatkan orang yang memakan harta anak yatim. Didalam neraka ini mereka buta, pekak, dan kulitnya tebal seperti Jabal uhud. Firman Allah SWT : “ Bahwasanya orang-orang yang memakan harta anak yatim dengan aniaya, sesungguhnya mereka memakan api sepenuh perutnya. Dan nanti mereka akan dimasukkan kedalam neraka Sair.” (Q.S. An-Nisa’ : 10)

5.Neraka Sahkhor, Saqru

Yaitu tempat orang yang tidak melaksanakan salat tempat orang yang berbohong tentang keberadaan Allah, menyembah selain Allah atau menyembah zat yang keluar dari sifat Allah dan Al quran,. dalam kitab safina : “….orang yang tidak melaksanakan solat dihukumi sebagai hewan yang tidak ada harganya/ tidak ada manfaatnya “ “Didalam surga mereka saling bertanya dari hal orang berdosa. Apakah sebabnya kamu masuk neraka Saqru? “Karena kami tidak sholat, kami tidak memberi makan orang miskin, kami percaya pada yang bukan-bukan. Kami mendustakan hari kiamat.” (Q.S. Al-Mudatsir : 40-46)

6. Neraka jahim , Jahim

Tingkat ke-enam yaitu ditempatkan orang kafir, orang yang mendustakan agama, yaitu orang-orang Islam yang berdosa. Mereka yang berbuat apa yang dilarang Tuhan. Umpamanya berzina, meminum khamar, dan membunuh tanpa hak. Firman Allah SWT : “Dan orang-orang yang kafir dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, mereka itilah penghuni neraka Jahim.” (Q.S. Al-Maidah : 86)

7. Neraka Hawiyah, Hawiyah.

Inilah neraka yang berada dibawah sekali.neraka yang paling keras, yaitu tempat orang yang ketika matinya tidak membawa iman dan islam, apinya hitam dan sudah dibakar 1000tahun lamanya, Alas atau kerak-kerak neraka. Disinilah tempat orang-orang yang berdoa berat. Mereka yang menjadi musuh nabi-nabi, seperti Firaun. Firman Allah SWT : “Dan barang siapa yang ringan timbangannya, maka dia dilemparkan ke neraka hawiyah. Tahukah engkau apakah Neraka Hawiyah itu? Yaitu api yang sangat panas.“ (Q.S. Al-Qoriah : 8-11) sahabat Abu Hurairoh “terdengar suara yang mengelegar lalu bertanyalah ke rosulullah dan rosulullah menjawab itu adalah suara batu yang jatuh dari neraka jahanam ke “teleng” sekitar dada jatuhnya 1000 tahun”.

Bersabda Nabi SAW : Adapun Neraka itu gelap gulita, tidak mempunyai penerangan kecuali api yang menyala-nyala. Neraka itu mempunyai tujuh pintu dan tiap-tiap pintu itu mempunyai tujuh puluh ribu bukit, tiap-tiap bukit mempunyai tujuh puluh ribu cabangnya, tiap-tiap cabang itu terdiri atas bagian-bagian yang lebih kecil. Dan tiap-tiap bagian yang lebih kecil itu terdiri atas tujuh puluh ribu dusunnya. Dan tiap-tiap dusun itu tujuh puluh ribu rumahnya dan api yang menyala-nyala. Tiap-tiap rumah itu tujuh puluh ribu ular dan kalajen ” Asyhadu ala ila ha ilallah Astaghfirullah Nas alluka ridhoka wal jannah ta wa naudzubika min sakhotika wannaar

 

ImagePendidikan Luar Sekolah adalah salah satu jurusan yang berperan besar dalam dunia pendidikan nonformal di Indonesia.
Jurusan yang memiliki peluang kerja di segala bidang kehidupan. Lulusan bisa di terima di berbagai instansi pemerintahan. Seperti Dinas Pendidikan, Dinas Sosial. Dinas Pariwisata, dan banyak lagi. Pendidikan Luar Sekolah dapat di terima di segala instansi pemerintahan dikarenakan Pendidikan Luar Sekolah dapat masuk ke dalam semua bidang tersebut karena Pendidikan  Luar Sekolah memiliki keterampilan yang lebih dari jurusan lainnya karena bidang kajian dari Pendidikan Luar Sekolah sangatlah luas dan tidak terbatas.

Berbagai Pemikiran tentang pendidikan yang muncul di dalam masyarakat bersamaan dengan dinamika perkembangannya serta merta membawa perubahan yang selanjutnya di kenal dengan aliran aliran pendidikan.
macam macam aliran pendidikan :

  1. “Aliran Empirisme” John Locke (1632 – 1704)
    Aliran ini berpendapat bahwa pengalaman adalah sumber pengetahuan, sedangkan pembawaan yang berupa bakat tidak diakuinya. Menurutnya manusia  dilahirkan sesungguhnya dalam keadaan kosong bagaikan “tabula rasa” yakni sebuah meja tipis yang berlapiskan lilin  yang tidak terdapat tulisan apapun diatasnya. Dengan kata lain dilahirkan seperti kertas putih kosong, sehingga pendidikan memiliki peran sangat peting bahkan dapat menentukan keberadaan anak.
  2. “Aliran Nativisme” Arthur Schoupenhauer (1788-1860)
    Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan seseorang merupakan produk dari faktor pembawaan yang berupa bakat. Jika seseorang baik kelak juga akan menjadi baik tanpa perlu dididik, sebaliknya jika seseorang itu sudak memiliki perilaku yang buruk maka kelak juga akan menjadi buruk. Sehingga pada aliran ini berpendapat bahwa pendidikan tidak akan merubah suatu perilaku yang berupa bakat, orang yang buruk tidak akan menjadi baik di karenakan pendidikan.
  3. “Aliran Naturalisme” J.J Rousseau (1712 – 1778)
    Aliran ini berendapat bahwa pendidikan hanya memiliki kewajiban memberi kesempatan kepada anak untuk tumbuh dengan sendirinya. Pendidikan hendaknya disehkan kepada alam. Pendidikan hanya dapat berbuat menjaga agar pembawaan yang baikpada anak tidak menjadi rusak akibat campur tangan masyarakat.
  4. “Aliran Konvergensi” Wiliam Stern (1871-1938)
    Aliran ini berpendapat bahwa pendidikan memiliki kemungkinan untuk dapat dilaksnakan dalam arti dapat dijadikan sebagai penolong kepada anak untuk mengembangkan potensinya. Yangmembatasi hasil pendidikan anak adalah pembawaan dan lingkungannya. Seiring dengan zaman yang muali berkembang aliran konvergensi dapat di terima karena dai aliran ini di anggap lebih realistis, sehingga banyak di ikuti oleh para pakar pendidikan.

    Idris, H.Zahara. 1992. Pengantar Pendidikan Jilid 1. Jakarta. Penerbit PT. Grasindo.

Awan Tag