Live is never flat, so don't give up with a problem

PENDIDIKAN DAN BELAJAR
Proses pendidikan dalam pengertian yang amat luas dapat didefinisikan sebagai perubahan dalam memahami dunia luar, dirinya sendiri, dan hubungan dirinya dengan orang lain dan obyek-obyek yang ada di lingkungannya . Perubahan-perubahan itu membantu seseorang untuk menginterprestasi pengalaman dan memungkinkan peningkatan teknik-teknik bertingkah laku yang efektif untuk menghadapi kehidupan, serta memungkinkan mengontrol elemen-elemen lingkungan yang berhubungan dengannya (Blakely,1972.Dewey(1916) mendefinisikan, pendidikan adalah “rekontruksi atau reorganisasi pengalaman, sehingga menambah arti pengalaman dan meningkatkan kemampuan mengarahkan jalan pengalaman berikutnya”. jadi, pendidikan erat sekali hubungannya dengan belajar : belajar adalah suatu proses dimana pribadi seseorang bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya , melalui proses ini terjadi pendidikan . seperti Blakely(1972.hal.105)telah menempatkan pendidikan dalam pengertian yang sangat luas, sebagai suatu proses “selfinitiated,” “self-directd learning” proses ini dilakukan secara spontan , alamiah, bahkan tanpa disadari (Stephen,1967). Karena itu, pendidikan tidak sama dengan belajar, khususnya jenis belajar formal.

Persekolahan dan belajar
Persekolahan dan belajar juga berkaitan sangat erat. Sekolah diasosiasikan dengan belajar, meskipun para penulis dalam bidang ini barangkali tidak sependapat mengenai beberapa jenis fakta belajar yang akakn menjadi masalah utama . bagaimanapun juga, sekolah dan belajar bukanlah hal yang sama. Umpamanya, belajar tidak harus secara khusus menyadari bahwa mereka sedang belajar. Para ahli ilmu jiwa mengakui eksistensi, seperti “incidental learning’” apa yang dipelajari barangkali diperoleh tanpa kesadaran pada diri pelajar . jenis belajar ini tidak dapat dianggap persekolahan, meskipun barangkali terjadi di sekolah serta menyenangkan atau mencemaskan para pendidik. Jenis belajar di sekolah memilki unsur-unsur tertentu yang membedakannya dengan belajar sehari-hari yang semata-mata terjadi dalam kehidupan dan perkembangannya. Apa yang menyebabkan kekhasan persekolahan dan keunikan hubungannya dengan belajar , adalah fakta bahwa proses persekolahan merupakan usaha sengaja dan sistematik dibuat untuk mengubah tingkah laku melalui belajar (Duke,1976; Rohwer,1970). Untuk membuat lebih sederhana , persekolahan mempunyai seperangkat prosedur yang secara sengaja direncanaakan dengan maksud mempengaruhi proses belajar , dengan cara khusus dipilih oleh orang-orang yang mengarah persekolahan . proses belajar diciptakan melalui pengolaan lingkungan , sehingga orang-orang yang disekolahkan menemukan diri mereka sendiri dalam lingkungan itu.
Dalam persekolahan, usaha formal dan terstandar dilaksanakan untuk memodifikasi belajar. Juga agen-agen yang secara khusus dirancang untuk tugas mengontrol belajar (guru-guru),para pelajar paling tidak sebagian menyadari fakta bahwa mereka diikat dalam proses belajar (murid-murid), dan seperangkat tujuan dan gagasan yang sengaja untuk direalisasikan , dan tujuan dan gagasan itu dianggap akan dapat dicapai dengan pola pengolaan khusus proses belajar yang dipilih. Semua hal yang telah disebutkan memerlukan persyaratan adanya orang-orang yang mengerti bagaimana mempengaruhi belajar, apa yang akan dipelajari , kapan akan dipelajari,dan tujuan untuk apa dipelajari . mereka itu adalah para pendidik profesional, seperti guru dan administrator. Dalam persekolahan , pendidik profesional dengan sengaja menyediakan kondisi lingkungan yang mereka percaya akan mengubah , belajar untuk mencapai lingkungan yang mereka inginkan. Jadi, hubungan antara persekolahan dengan belajar berpusat pada fakta , bahwa meskipun belajar adalah seumur hidup dan ada di mana-mana, hanya selama periode persekolahan belajar dilakukan secara besar-besaran, dibiayai negara, biasanya wajib diikuti dan terdapat usah sistematis yang dibuat untuk memodifikasi dan mengaturnya.

Pendidikan dan persekolahan
Istilah “pendidikan “ seringkali dipergunakan dalam jajaran statemen tentang sekolah dan mengajar di sekolah. Dapat dibenarkan pengertian pendidikan lebih diperluas meliputi seluruh pengalaman yang mendidik yang dialami oleh orang-orang dalam seluruh bagian kehidupan normal mereka . tentu saja, kemungkinan menerima pendidikan melalui pengalaman kehidupan (pendidikan “dalam sekolah kehidupan” ), atau sebaliknya menggunakan banyak waktu di sekolah tetapi miskin pendidikan dalam bidang kehidupan (“pendidikan orang-orang idiot”), diakui secara luas dalam ekspresi bahasa sehari-hari. Persekolahan adalah pembelajaran di sekolah dengan aksentuasi pada penguasaan materi yang diajarkan. Untuk mengetahui derajat penguasaan, diadakan suatu sistem ujian berkala dan penguasaan yang berdasarkan hasil yang distandardisasikan oleh ujian tadi, menentukan akses ke jenjang pembelajaran yang lebih tinggi. Pengakuan terhadap penguasaan materi yang disebut pula sebagai pengetahuan di jenjang pembelajaran tertentu ditandai dengan ijazah serta gelar tertentu yang sepadan. Persekolahan adalah hanya salah satu instansi khusus pendidikan. Hal ini penting bagi siapa saja yang ingin memahami prinsip-prinsip pendidikan seumur hidup. Perbedaan yang dibuat antara pendidikan dan persekolahan disini barangkali karena didorong seringkali kedua istilah tersebut disamakan . karena itu, penting untuk diperhatiakan bahwa belajar yang belangsung di sekolah hanya salah satu contoh belajar normal , wajar dan sehari-hari yang berlangsung dalam proses pendidikan yang lebih luas . lebih jauh lagi, persekolahan hanya salah satu dari banyak proses pendidikan yang beroperasi dalam kehidupan , dan sekolah hanya salah satu prinsip-utama pendidikan seumur hidup.

Konsep belajar
Sebagai “reorganisme kejiwaan” jelas sekali meliputi banyak faktor yang tidak hanya sekedar pola reinforcement khusus yang beroperasi pada waktu terjadinya. Diantaranya faktor kognitif seperti interprestasi informasi , kecocokan input dengan tingkat perkembangan yang ada , dan sebagainya, juga termasuk ada tidaknya pola motivasi yang cocok, dan seluruh unsur variabel affektif seperti sikap terhadap orang dan benda , dan faktor lain yang serupa.
Lebih jauh lagi, konsep belajar yang di pergunakan disini juga diperluas kebidang yang kedua. Belajar meliputi penguasan ketrampilan-ketrampilan sosial baru, perkembangan perubahan sikap ke arah dirinya sendiri dan orang lain , perubahan kemampaun untuk mengalami dan menahan emosi, pengembangan tujuan dan aspirasi , dan sebagainya. Konseptualisasi belajar ini telah diungkapkaan lebih banyak oleh Blakely(1972). Meskipun benar bahwa belajar adalah proses adaptasi terhadap lingkungan , lebih jelas lagi pengertiannya, khususnya dalam konteks belajar adalah proses yang “dinamis.” Manusia belajar aspek-aspek pengalaman apa yang aka diperoleh dan taktik dan teknik apa yang akan dipergunakan untuk menafsirkan pengalaman. Mereka belajar bagaimana belajar, kapan belajar dan apa yang akan dipelajari. Belajar buakn hal yang pasif , tetapi terdiri dari proses ‘kreatif’ seleksi dan reorganisasi. Pemikiran dapat juga dianggap sebagai “instrumen untuk belajar”(Blakely,1972.hal.167)
Dalam segi ini pendidikan seumur hidup pada pokoknya berkenaan dengan belajar sebagai suatu sistem pendidikan. Kesimpulan, organisasi argumen buku ini sekitar inti senttral belajar sebagai suatu proses tidak ada jalan untuk mengartikan pendiddikan terkosentrasi pada suatu proses yang sempit yang terbatas hanya pada penguasaan pengetahuan kesarjanaan , profesi, atau jenis kejuruan. Pendidikan memang meliputi beberapa elemen seperti itu , disamping juga berkenaan dengan motivasi , kognitif, etika, estetika, dan pertumbuhan personal.

Pendidikan seumur hidup dan belajar seumur hidup
Perpanjangan perbedaan antara pendidikan dan belajar berguna dalam hal ini, yaitu perbedaan antara pendidikan seumur hidup dan belajar seumur hidup. Seperti yang telah dikemukakan, belajar dan pendidikan tidak sama,begitu juga pendidikan dan persekolahan. Juga dikemukakan bahwa belajar adalah proses seumur hidup yang berlangsung denagn atau tanpa persekolahan apa yang diterimanya. Seperti yang telah diketengahkan, karakteristik khusus persekolahan menyediakan dengan sengaja kondisi yang akan membantu jenis belajar tertentu. Jika, pendidikan seumur hidup adalah suatu tujuan atau ide yang memuat prinsip-prinsip mengorganisir persekolahan untuk membantu proses belajar seumur hidup, dan untuk mempengaruhinya sesuai dengan tujuan dan ide khusus. Salah satu tujuan pendidikan seumur hidup memodifikasi persekolahan untuk membentuk dan mengaruhi jenis belajar yang terjadi seumur hidup. Sistem sekolah diorganisir menurut prinsip pendidikan seumur hidup. Sistem sekolah diorganisir menurut prinsip pendidikan seumur hidup tidak akan menciptakan belajar seumur hidup karena belajar seumur hidup sudah berlangsung ), tetapi akan memuat usaha sengaja untuk mempengaruhi bentuk, tingkat dan kualitas belajar.

Pendidikan seumur hidup dan pengetahuan kejiwaan
Inovasi pendidikan dapat dievaluasi secara sah dengan cara menganalisis tempat bertumpunya prinsip-prinsip teoritis, dan menunjukkan bahwa inovasi pendidikan dapat dimengerti dalam istilah pengetahuan yang sudah ada, mengarah ke satu tujuan bahwa pendidikan seumur hidup dapat dievaluasi dengan menanyakan apa basis teoritisnya. Melakukan analisis menjadi tujuan utama dan jika dapat dilihat pendidikan seumur hidup konsisten dengan pengetahuan kejiwaan perkembangan manusia. Dengan studi prediktif ditetapkan tujuan operasional dan secara berurutan ditetapkan adanya korelasi atau ketidakadaan korelasi diantara keduanya seperti yang telah dikemukakan, problem keuangan dan keorganisasian sangat sulit dalam segi pembagian waktu, dan biasanya tidak dianggap penting.
Pendidikan seumur hidup esensinya lebih banyak merupakan suatu statemen gagasan daripada suatu proses yang dibuktikan secara ilmiah. Pendidikan seumur hidup mempunyai tujuan yang akan dicapai oleh pendidikan, prinsip-prinsip yang akan ditekankan, dan jenis-jenis orang yang akan ditolong perkembangannya. Sebagai tujuan pendidikan, paling tidak dirumuskan dalam bentuk abstrak, tujuan kejiwaan ideal pendidikan seumur hidup seperti terbinanya orang yang yakin,kreatif,mempunyai kemampuan intelektual,kepribadian yang baik,etis dan sebagainya. Pendidikan seumur hidup adalah menterjemahkan tujuan abstrak ke dalam rangkaian operasi kelas yang konkrit dan dapat di percaya untuk mencapai tujuan. Proses deduksi hipotesis klasikal memerlukan formulasi hipotesis tentang sifat-sifat terpenting kurikulum, menghubungkan antara unsur-unsur kurikulum dengan tingkah laku dalam kehidupan nyata dan memodifikasi unsur-unsur sistem yang dilihat tidak efektif. Pengembangan sistematik kurikulum memerlukan studi longitudinal yang meliputi satu generasi.
Perlu disadari secara jelas pendidikan seumur hidup adalah konsep abstrak yang meliputi tujuan-tujuan abstrak dan idealis, dan seberapa jauh kemampuan untuk direalisasikan belum diketahui. Adopsi prinsip pendidikan seumur hidup lebih lanjut, sebagian merupakan tindakan yang berdasarkan kepercayaan, beserta elemen politik masyarakat yang kuat. Bahwa untuk veliditas pendidikan seumur hidup perlu memasukkan prinsip-prinsip dasar yang valid untuk dijadikan titik tumpu, yang diambil dari pengetahuan empiris di bidang lain seperti ilmu jiwa.
Empat konsep kunci harus dijelaskan dalam hal ini. Pertama konsep pendidikan seumur hidup itu sendiri interrelasi dasar antara persekolahan dengan belajar, kehidupan dan pendidikan telah didiskusikan terperinci dalam pembicaraan terdahulu. Pendidikan seumur hidup didefinisikan sebagai tujuan atau ide formal untuk organisasi dan struktur pengalaman pendidikan. Organisasi dan struktur ini akan diperluas meliputi seluruh rentang usia, dari yang muda hingga tua, hal ini memerlukan basis institusi yang amat berbeda dengan basis yang mendasari persekolahan konvensional. Istilah “pendidikan seumur hidup” digunakan sehingga dapat dimengerti. (tujuan yang mengarahkan organisasi pendidikan).
Kedua, konsep utama yang dipergunakan adalah tentang “belajar seumur hidup” bahwa belajar terjadi seumur hidup dan tidak terikat dengan ada dan tidaknya konsep pendidikan seumur hidup, “belajar seumur hidup” akan dikelola dengan belajar konvensional seperti yang kita ketahui. Jadi kapan saja istilah pendidikan seumur hidup dipergunakan dan sangat penting untuk diperhatikan bahwa ia tidak mengacu pada proses belajar seumur hidup yang alamiah dan pasti terjadi tanpa organisasi sekolah. Ketiga, konsep yang berhubugan erat adalah tentang “pelajar seumur hidup” tampak bahwa seluruh orang adalah pelajar seumur hidup,terlepas dari cara-cara persekolahan yang dorganisir dalam masyarakat mereka. Pelajar seumur hidup akan digunakan untuk menyatakan orang-orang yang sadar tentang diri mereka sendiri sebagai pelajar, belajar merupakan cara yang logis untuk mengatasi problema dan mendorong untuk belajar diseluruh tingkat usia dan menerima tantangan dan perubahan seumur hidup sebagai pemberi kesempatan untuk belajar baru.
Konsep terakhir yaitu “kurikulum yang membantu pendidikan seumur hidup” kunci, pendidikan seumur hidup mempunyai implikasi terhadap cara mengajar. Yaitu cara mengajar yang seharusnya dilaksanakan berdasarkan prinsip pendidikan seumur hidup. Pendidikan seumur hidup adalah filsafat atau ide, pelajar seumur hidup dan belajar seumur hidup adalah hasil yang diharapkan, dan kuikulum yang membantu belajar seumur hidup adalah cara praktis yang harus dilalui untuk mencapai tujuan.

Struktur analisis
Belajar di sekolah pada esensinya merupakan kompleks variabel, kognitif, motivasi dan sosio efektif seperti yang telah dibicarakan. Analisis kejiwaan pendidikan seumur hidup akan diorganisir dalam tiga kerangka, tujuannya untuk menunjukkan bahwa asumsi kejiwaan secara implisit yang mendasari pendidikan seumur hidup dalam bidang fungsi kognitif, motivasi dan fungsi sosio efektif itu benar menurut pengetahuankejiwaan sekarang. Inkonsestansi serius kosep dasar pendidikan seumur hidup dengan pengetahuan kejiwaan sekarang akan mempengaruhi keyakinan para administrator pendidikan untuk mengimplementasikannya.
Sejak pendidikan seumur hidup memuat seperangkat tujuan yang jelas berbeda dengan tujuan pendidikan yang diorganisir sudah menunjukkan bahwa pendidikan seumur hidup menurut pengetahuan kejiwaan akan menyajikan basis yang memadai untuk mengkaji lebih jauh prinsip-prinsipnya. Penerimaan atau penolakan sangat mungkin akan bertumpu terhadap rumusan pendidikan seumur hidup itu sendiri. Seluruh analisis pengesahan pendidikan seumur hidup sebagai suatu prinsip yang terorganisir dan keputusan apa sistem sekolah yang ada dapat dimodifikasi menurut konsep pendidikan seumur hidup, tidak hanya bertumpu pada analisis kejiwaan. Inkonsistensi antara pendidikan seumur hidup dan pengetahuan kejiwaan mungkin menyebabkan tidak valid sub – sub prinsip pendidikan seumur hidup yang ditemukan atas dasar pertimbangan lebih lanjut. Pendidikan seumur hidup memerlukan pendidikan yang lebih kompleks di tinjau dari segi disiplin ilmu seperti ekonomi, sosiologi, administrasi dsb. Arah tersebut sudah dimulai oleh Dave (1974).
Analisis pendidikan seumur hidup dari sudut pandang kejiwaan merupakan aspek penting, meskipun elemen ini kurang di berikan penekanan. Aspek kedua ini berkenaan dengan implikasi pengetahuan, perencanaan kurikulum yang berorientasi pada pendidikan seumur hidup. Bab 4, 5, dan 6 meninjau kembali pengetahuan kejiwaan yang berkenaan dengan interaksi antara kehidupan dengan pengalaman dan belajar, dan meninjau kembali unsur mana dari prinsip – prinsip pendidikan seumur hidup. Meskipun telah dikemukakan bahwa syarat keberhasilan yang membantu pendidikan seumur hidup yang tidak terlalu di pentingkan untuk menganalisis konsep pendidikan seumur hidup, dan bukti seperti itu tidak pada umumnya disajikan waktu mengevaluasi kurikulum. Bab 7 mendiskusikan implikasi analisis kejiwaan pendidikan seumur hidup terhadap rancangan kurikulum. Dan bab 8 akan mengevaluasi secar kritis seluruh prinsip, terutama dari sudut pandang kejiwaan.

BASIS KEJIWAAN PENDIDIKAN
Lembaga pendidikan umumnya berstandarisasi dan menyeragamkan semua proses pendidikan khususnya disekolah.Standarisasi ini bertujuan untuk memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap proses pembelajaran seperti,bagaimana proses belajar berlangsung,apa yangharus dipelajari,kapan mempelajarinya dan lain sebagainya.Kenyataannya,penetapan tujuan-tujuan pendidikan yang disengaja selalu terpaut dengan bidang kejiwan,ekonomi,sosiopolitik,dan unsur-unsur sosiologis.kepercayaan tersebut secara eksplisit di nyatakan dalam pembukaan kurikulum atau sukar dikenali pelaksanaannya dalam sistem.
Ini bearti pendidikan seumur hidup juga berhubungan dengan seperangkat kepercayaan dalam bidang kejiwaan, sedangkan kepercayaan itu juga berhubungan dengan persekolahan konvensional,meskipun sifat-sifat kepercayaan secara tepat barangkali berbeda. Prinsip pendidikan seumur hidup mensyaratkan bahwa orang-orang harus belajar dengan cara tertentu, dibawah kondisi tertentu, dan akan berlangsung terus seumur hidup mereka. Juga mensyaratkan eksistansi orang-orang untuk tahu cara apa yang dipergunakan, dan apa tujuan belajarnya. Salah satu maksud teks ini adalah untuk membuat beberapa saran berdasarkan pada pengetahuan kejiwaan seekarang, sekitar bagaiman apendidikan seumur hidup itu akan disruktur agar mempengaruhi belajar seumur hidup. Bagaimanapun juga, rekomendasi ini memuat seperangkat kepercayaayn tentang seperti apa sebenarnya orang itu, dan apa tujuan belajar yang harus mereka cari , dan seperti apa manusia yang ideal itu,dan sebagainya. Fakta ini baik untuk diingat dan diolah dalam pikiran.
Pendidikan dan ilmu jiwa mempunyai interrelasi yang dalam. Kejelasan pengakuan terhadap fakta ini dapat dilihat peranan utama yang diberikan pada studi faktor-faktor kejiwaan dalam program pendidikan guru. Hubungannya kompleks, seperti yang telah dikemukakan oleh Rohwer(1970), dan bukan hasil keuntungan kolaborasi seperti yang diharapkan. Pendidikan juga diikaitkan dengan faktor-faktor lingkungan dalam kelas yang membantu belajar. Perhatian utama dalam psiokologi pendidikan adalah (a) sifat dan karakteristik siswa, (b) sifat proses belajar, (c) cara guru membuat proses belajar siswa, dan (d) penetapan prinsip – prinsip ilmiah (Ahmad Munib (2011)). Kondisi-kondisi ini tidak hanya sekedar seperangkat sekedul ”reinforcement” untuk meningkatkan kemungkinan bahwa respon tertentu akan muncul lebih banyak dimasa depan, dan yang lainnya kurang, tetapi juga kondisi-kondisi yang membantu belajardalam kelas meliputi faktor seperti tingkat kesulitan dan organisasi bahan. Jadi, pengelolaan belajar kelas menggunakan dasar pengetahuan dalan ilmu jiwa kognitif.
Sebagai tambahan belajar dalam kelas sangat tergantung dengan penerapan”iklim yang memotivasi” dengan tepat. Meskipun tidak bisa dilaporkan dalam literatur seperti ini, tingkah laku tikus dalam laboratorium menunjukan elemen-elemen perhatian dan maksud(purpose). Dalam kasus anak manusia yang balajar dalam kelas, faktor utama efisiensi belajar adalah keinginan untuk belajar itu sendirisecar psikologis merupakan fenomena yang kompleks. Fenomena tersebut meliputi apa yang disebut unsur-unsur ”sturtural,” seperti penerimaan oleh anak bahwa bahan yang sedang dia pelajari dalam banyak hal berharga. Teriakan bahwa bahan-bahan belajar dalam kelas tidak “relevan” atau bahan-bahan itu tidak dapat diterapkan dalam kehidupan nyata anak-anak, suatu contoh yang menjadi fokus dalam isu ini. Dari segi lain, motivasi positif juga meliputi apa yang disebut dengan variabel ”proses” seperti keinginan untuk menyenangi guru yang baik.
Faktor- faktor sosio affektif belajar dalam kelas meliputi pertanyaan apakah anak-anak merasa atau tidak, bahwa mereka dalam kelas berada ditengah-tenagh temannya, bahwa belajar adalah sesuatu yang wajar dan mudah dikerjakan, bahwa sekolah adalah alat yang bernilai dalam kehidupan, dan ssebagainya. Ini dapat disimpulkan dengan apakah anak merasa atau tidak bahwa mereka milik kelas dan kelas adalah milik mereka.

Faktor-faktor kejiwaan dalam tujuan pendidikan.
Pengelolaan belajar kelas yang sukses adalah suatu fenomena yang memuat elemen kejiwaan sebagai bagian yang amat penting. Basis kejiwaan pendidikan sama sekali tidak terbatas pada pengelolaan belajar dalam kelas. Seperti yang telah dikemukakan dalam bab dua,eleman utama persekolahan formal adalah pengelolaan pengalaman anak-anak yang disengaja selama proses persekolahan formal untuk mencapai perubahan tingkah laku yang diinginkan.
Amat sangat penting untuk diperhatikan bahwa tujuan-tujuan seperti ini, meskipun dikatakan muncul dari bukti-bukti yang dapat di pertanggungjawabkan secara”ilmiah” namun kenyataannya sangat tergantung dengan faktor-faktor sosio politik seperti kepercayaan umum tentang heredity dan environment dalam perkembangan manusia. Sebagai contoh, amat mengejutkan sekali bahwa pada abad ke 19, training transfer dalam sistem pendidikan Inggri secara luas diterima sebagai kunci konsep kejiwaan, sedangakan pandangan sosio politik bahwa perbedaan individu hampir seluruhnya sebagai hasil heredity, dan dengan heredity ditransmisikan superioritydan inferiority.Hasil penelitian yang dilakukan oleh Vanderbilt Univercity dalam jurnal prospektif ” Perspectives on Psychological Science” terhadap 5000 orang siswa yang di anggap berbakat menunjukan bahwa untuk menjadi genius dibutuhkan beberapa faktor antara lain kemampuan kognitif, kesempatan belajar dan kerja keras.

Tujuan pendidikan sekarang
Selanjutnya fungsi dan tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang tercantum di dalam UU No.20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Walaupun dalam pernyataan terdahulu tentang tujuan pendidikan jelas memilki basis kejiwaan dan bertumpu pada bodi pengetahuan kejiwaan(tertanam dalam pikiran bahwa interperensi pengetahuan ini sangat dipengaruhi oleh faktor –faktor sosio politik), hanya dalam tulisan tulisan yang lebih mutakhir, kejiwaan secara eksplisit dijadikan statemen untuk tujuan pendidikan . khususnya dalam menghadapi ketidakpastian sifat-sifat dunia di masa mendatang ditekankan dalam bab 1dan 2, para penulisn sekarang lebih banyak menitik beratkan pada peranan pendidikan dalam membantu pola tertentu pertumbuhan kejiwaan anak. Mengemukakan batasan pengertian pendidikan adalah suatu bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai tujuan, yaitu kecerdasan. Beberapa aspek yang berhubungan dengan usaha pendidikan, yaitu bimbingan sebagai suatuproses, orang dewasa sebagai pendidik, anak sebagai manusia yang belum dewasa, dan yang mutakhir adalah tujuan pendidikan .Kenyataanya, semakin eksplisit dalam tulisan tentang tujuan pendidikan sekarang ini, bahwa tujuan pendidikan pada hakekatnya adalah masalah kejiwaan hubungan anatara ilmu jiwa dengan pendidikan menjadi lebih pesifik. Proses dan isi persekolahan didasarkan atas kepercayaan kejiwaan tentang bagaimana terjadinya belajar dan apa yang harus dipelajari. Sebagai tambahan, tujuan pendididkan didasarkan pada kepercayaan kejiwaan tentang apa yang dibutuhkan orang-orang jika mereka ingin hidup memuaskan, apa yang menyebabkan kepuasan hidup , dan sebagaainya.

MENILAI PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
Dalam argumentasi yang telah dikembangkan jelas dimungkinkan dan malah diinginkan untuk menganalisis pendidikan dari sudut pandang assumsi kejiwaan yang mendasari struktur, proses dan tujuan pendidikan. Banyak analisis pendidikan modern disajikan dlaam bab-bab dan bertentanagann dengan assumsi-assumsi pendidikan seumur hidup yang mempunyai basis kejiwaan. Ini tidak di maksudkan untuk menolak bahwa ia juga mempunyai aspek ekonomi,elemen-elemen administrasi , dan sebagainya. Umpamanya pertanyaan bagaimana kelas diorganisasi jawabanya meliputi issu ekonomi,administratif,dan juga kejiwaan. Dengan demikian, seperti yang telah dikemukakan. Terdapat eleman-eleman kejiwaan dalam inti proses pendidikan, dan masalah ini menjadi pusat pembicaraan dalam teks ini.

Pendidikan dan ideologi
Dengan diterimanya pandangan yang telah dikemukakan bahwa pendidikan amat luas kaitannya dengan faktor-faktor kejiwaan, karena itu evaluasi sistem pendidikan jelas sekali harus berdasarkan kriteria kejiwaan. Hal ini tepat sekali menjadi tujuan penyajian buku ini. Bagaimanapun juga, evaluasi pendidikan(kejiwaan atau yang lainnya langsung berhadapan dengan problem praktis, yaitu bagaimana melaksanakanya. Tujuan-tujuan pendidikan mau tidak mau dinyatakan sebagai suatu ranguman gagasan. Bahkan di mana ada usah dibuat untuk mendiskripsikan hasil-hasil yang diharapkan secara lebih mendetil, deskripsi itu akan tetapdi tulis dalam istilah abstrak . jadi, khusus kurikulum harus dinyatakan dengan istilah seperti “produksi pelajaar yang disiapkan dengan baik untuk berfungsi sebagai warga negara,” atau “pengembangan berpikir logis daan kritis dalam diri pelajar.” Tidak satupun deskripsi tersebut yang operasianal dibandingkan dengan statemen seperti’pengembangn pelajar yang meminjam anatara 3 sampai 5 buku dari perpustakaan dalam minggu tertentu .”
Bahkan tujuan kejiwaan pendidikan umumnya dinyataka dalam bentuk ide abstrak. Lebih jauh lagi , ide-ide ini dengan jelas cenderung untuk memuat aspek-aspek politik, seperti yang telah dikemukakan. Dalam masyarakat yang menjunjung tinggi nilai penyesuaian dengan norma-noram masyarakat agar menjadi warga negara yang baik, ide-ide pendidikan yang berkaitan dengan peranan sekolah dalam membantu ”warga negara yang baik“ akan menjadi statement abstrak. Seperti statemen yang membanjir dalam kurikulum dan teks book pendidikan di amerika serikat pada tahun1950.an. sebaliknya masyarakat pada waktu tertentu dalam perkembangannya memuja ilmu pengetahuan abstrak, mereka mengembangkan tujuan pendidikan yang menitikberatkan isi ilmu pangetahuan yang mencerminkan keilmuan yang tinggi (seperti bahasa latin, bahasa yunani, dan matematika pada abad ke19 di Inggris) masyarakat yang menekankan pentingnya kerjasama , tidak ada kompetisi , dan pengehormatan terhadap negara akan menitikberatkan tujuan pendidikan dalam segi ini, sedangakan masyarakat yang umumnya menyenangi individulisme, kompetisii, dan aktivitas kewiraswastaan akan memasukkan keyakinan ini dalam tujuan pendidikan mereka.
Kenyataan yang berkembang kemudian, tujuan pendidikan sangat bersifat ideologis. Jauh dari kenyataan konkrit,operasional dan universal. Dan dapat diduga semua tujuan bersifat idealistis, dan sangat terpengaruh dengan ideologi yang populer pada waktu itu. Hal ini denagn mudah dapat dilihat dari kajian pernyataan yang menyangkut tujuan pendidikan masa sekarang tujuan yang di tetapkan mencerminkan ideologi yang berlaku pada waktu para pengembang kurikulum menerima pendidikan mereka. Dan para pembangakang dalam bidang pendidikan mengusulkan kurikulum yang dikembangkan dalam istilah ideologis yang menurut masyarakat mereka “maju” “radikal” dan ‘progresif” dan sebagainya. Konsekuensinya amat penting untuk dimengerti bahwa gagasan pendidikan seumur hidup adalah ( a) tujuan atau gagasan yang abstrak, (b) dimodifikasi oleh ideologi sekarang atau paling tidak,kepercayaan-kepercayaan sosio politik masyarakat tempat para pengajur berada,(c)dinyatakan dengan cara abstrak dan idealistis,tidak dengan cara spesifik dan operasional.

Daftar Pustaka
Joesoef, Daoed.(2009). Persekolahan dan Pendidikan. http://averroes.or.id. di unduh 6 Desember 2012 pukul 13.16 WIB.
Munib, Achmad. 2011. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang : UNNES PRESS.
Vanderbilt University , 2006. ” Perspectives on Psychological Science”. http://clubbing,kapanlagi.com. diunduh pada tanggal 6 Desember 2012.10.41.
Undang – Undang No.20. 2003, Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003. Jakarta : Sinar Grafika.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: